Halaman

Flatulensi (Perut Kembung)


Definisi flatulens atau gas intestinal, dalam bahasa awam disebut “perut kembung” adalah status memiliki gas berlebihan di lambung dan usus (gas hasil sisa yang diproduksi pencernaan) yang biasanya dilepaskan dari anus dengan suara atau bau kentut (flatus). Flatulens juga meliputi kentut, dan beberapa individu juga mengalami sendawa.

Komponen utama dari gas (dikenal sebagai flatus/kentut) adalah lima gas tidak berbau: nitrogen, hidrogen, karbon dioksida, metana, dan oksigen.
Bau khas kentut dikaitkan dengan gas seperti skatole, indol, dan senyawa yang mengandung sulfur.
Karakter yang mudah terbakar dari flatus disebabkan oleh hidrogen dan metana. Proporsi gas-gas ini tergantung pada bakteri yang hidup yang mencerna di usus manusia, atau makanan fermentasi yang belum diserap oleh saluran pencernaan sebelum mencapai usus besar.
Diperkirakan 30-150 gram makanan yang tidak tercerna ini mencapai usus besar dalam bentuk karbohidrat setiap hari. Tapi jumlah ini dapat bervariasi sesuai dengan diet dan seberapa baik saluran pencernaan berfungsi.
Kondisi disebut “flatulensi vagina” adalah pelepasan udara yang terjebak di dalam vagina selama atau setelah hubungan seksual yang terdengar seperti kentut namun keluar dari vagina, tetapi tidak mengandung limbah gas dan tidak memiliki bau tertentu. Ini berbeda dengan perut kembung (flatulensi), tetapi disebut begitu karena suara yang dikeluarkan saat udara keluar dari vagina menyerupai kentut.

Berapa banyak kentut atau gas yang dikeluarkan seseorang per hari?
Biasanya orang memproduksi sekitar 1-3 liter gas per hari, dan melepaskan gas sekitar 14 kali sehari. Perut kembung itu sendiri, meskipun tidak mengancam jiwa, dapat menyebabkan rasa malu sosial. Malu ini sering menjadi alasan mengapa orang mungkin mencari bantuan medis untuk kondisi gas yang berlebihan.

Apakah gas berlebihan di perut?
Gas yang berlebihan atau perut kembung didefinisikan oleh beberapa peneliti sebagai kentut lebih dari 20 kali per hari. Peningkatan gas di perut terjadi ketika seseorang kentut lebih dari sekitar 14 kali sehari dan perut kembung ekstrem didefinisikan sebagai suatu penyakit tapi kadang-kadang digunakan untuk menggambarkan kentut yang berlebihan atau konstan dan kadang-kadang terkait dengan produksi gas yang bau. Perut kembung kronis juga tidak didefinisikan dengan baik tapi digunakan untuk menggambarkan perut kembung berlebihan yang mungkin terjadi setiap hari selama beberapa minggu sampai beberapa tahun.

Sumber : https://doktersehat.com/komponen-gas-perut-dan-frekuensi-kentut-normal-pada-flatulens-perut-kembung/

Fistula Arteriovenosa


Fistula adalah saluran yang terhubung secara tidak normal antara dua bagian tubuh atau pembuluh darah. Fistula dapat terjadi di berbagai bagian tubuh seperti saluran kemih, anus, saluran pencernaan, vagina, hingga kulit. Setidaknya ada lima jenis fistula yang sering terjadi.

Banyak bagian tubuh atau pembuluh darah yang normalnya tidak terhubung, namun karena cedera, tindakan operasi, penyakit, infeksi, atau pembengkakan, menjadi terhubung oleh suatu saluran.
Mengenal Berbagai Jenis Fistula yang Sering Terjadi
Berikut ini beberapa jenis fistula yang sering muncul pada tubuh manusia, yaitu:
  • Fistula gastrointestinal

Fistula gastrointestinal adalah pembukaan abnormal di saluran pencernaan hingga menyebabkan cairan lambung merembes keluar melalui lapisan lambung atau usus. Jika cairan lambung bocor hingga ke kulit atau organ tubuh lainnya, bisa mengakibatkan infeksi. Fistula yang satu ini paling sering terjadi akibat operasi di dalam rongga perut (intraabdomen) atau karena gangguan pencernaan yang kronis.

Setidaknya ada 4 macam fistula gastrointestinal, yaitu:
  1. Fistula usus, di mana cairan lambung bocor dari satu bagian usus ke bagian usus
  2. Fistula ekstraintestinal. Fistula jenis ini terjadi saat cairan lambung bocor dari usus ke organ tubuh Anda yang lain seperti kandung kemih, paru-paru, atau sistem pembuluh darah.
  3. Fistula eksternal, di mana cairan lambung bocor melalui kulit.
  4. Fistula kompleks, yaitu fistula yang terjadi pada lebih dari satu organ.

  • Fistula ani

Fistula ani adalah saluran kecil yang terbentuk di antara usus bagian akhir dan kulit di dekat anus. Fistula ini biasanya terjadi akibat infeksi di dekat anus yang menyebabkan sekumpulan nanah atau abses di jaringan sekitarnya. Satu-satunya cara untuk mengobati fistula ani adalah melalui operasi.

Pada fistula ani, kulit di sekitar lubang anus terhubung dengan saluran anus. Fistula ani dapat meliputi:
  1. Fistula anorektal, terbentuk antara saluran anus dengan kulit yang ada di sekitar lubang anus.
  2. Fistula rektovaginal, terjadi ketika muncul saluran antara vagina dan rektum.
  3. Fistula kolovaginal, saat koneksi terbentuk antara vagina dan usus besar.
  4. Fistula ani dapat menyebabkan gejala yang tidak menyenangkan, seperti iritasi kulit di sekitar anus; keluar kotoran yang bau dari dekat anus; nyeri saat duduk, bergerak, buang air besar atau batuk; keluar nanah atau darah saat buang air besar; sulit mengendalikan buang air besar; anus bengkak dan memerah; serta demam.

  • Fistula arteriovenosa

Fistula arteriovenosa merupakan saluran yang terbentuk secara abnormal antara pembuluh darah arteri dan vena. Jika biasanya darah mengalir dari arteri ke kapiler lalu ke vena, maka fistula membuat darah mengalir langsung dari arteri ke vena, tanpa melewati kapiler. Akibatnya, suplai darah pada jaringan di bawah kapiler jadi berkurang.

Fistula arteriovenosa biasanya terjadi di kaki, tapi tidak menutup kemungkinan berkembang di bagian tubuh lainnya seperti di lengan, paru-paru, ginjal, atau otak. Jika tidak diobati, fistula jenis ini bisa menyebabkan komplikasi serius.
  • Fistula vagina

Fistula vagina adalah munculnya celah atau saluran abnormal yang menghubungkan vagina dengan organ lain, seperti kandung kemih, usus besar, atau rektum (bagian bawah usus besar yang dekat dengan anus). Hal ini bisa membuat keluarnya urine dan tinja dari vagina.

Fistula vagina dapat terjadi akibat cedera, operasi, infeksi, terapi radiasi, menderita penyakit peradangan usus, divertikulitis, atau ruptur perineum dan infeksi pada episiotomi setelah melahirkan. Apa pun penyebabnya, fistula jenis ini harus ditangani melalui operasi.

Fistula vagina ada beberapa jenis, yaitu:
  • Fistula vesikovaginal. Fistula terbentuk antara vagina dengan kandung kemih. Disebut juga fistula kandung kemih.
  • Fistula ureterovaginal. Fistula terbentuk antara vagina dengan ureter (saluran yang membawa urine dari ginjal ke kandung kemih).
  • Fistula uretrovaginal. Fistula terbentuk antara vagina dengan uretra (saluran kemih). Nama lainnya adalah fistula uretra.
  • Fistula rektovagina. Fistula terbentuk antara vagina dengan
  • Fistula kolovaginal. Fistula terbentuk antara vagina dengan usus besar.
  • Fistula enterovaginal. Fistula terbentuk antara usus halus dengan vagina.
  • Fistula obstetrik

Fistula obstetrik merupakan fistula rektovagina, yaitu terbentuknya celah antara rektum dan vagina. Akibatnya, gas dan tinja bisa keluar melalui vagina. Fistula obstetrik bahkan menjadi salah satu penyebab kematian ibu saat melahirkan, presentasenya mencapai 6%. Fistula ini dapat terjadi akibat:
  • Cedera saat melahirkan.
  • Menderita penyakit Crohn atau penyakit radang usus.
  • Menjalani terapi radiasi atau kemoterapi di daerah panggul.
  • Muncul komplikasi atau efek samping setelah melakukan operasi di daerah panggul.

Fistula adalah kondisi yang memerlukan penanganan medis. Pengobatannya tergantung pada penyebabnya, letak terjadinya, dan seberapa buruk kondisinya. Beberapa fistula bisa menutup dengan sendirinya. Namun biasanya penanganan fistula membutuhkan tindakan operasi untuk menutup saluran atau celah yang terbentuk, agar organ yang terganggu bisa berfungsi normal seperti sedia kala.

Sumber : https://www.alodokter.com/fistula-munculnya-saluran-antara-bagian-tubuh

Fistula Anorektal (Fistula in ano)


Fistula ani adalah terbentuknya saluran kecil di antara ujung usus besar dan kulit di sekitar anus atau dubur. Kondisi ini terbentuk sebagai reaksi dari adanya infeksi kelenjar pada anus yang berkembang menjadi abses anus, di mana terbentuk kantung atau benjolan berisi nanah. Fistula akan terlihat seperti saluran atau lubang kecil setelah nanah keluar. Selain abses, fistula ani juga berisiko dialami penderita gangguan saluran cerna bawah, seperti Crohn’s disease. Akibatnya, penderita merasakan nyeri atau rasa tidak nyaman pada kulit sekitar anus.
Pengobatan fistula ani dilakukan setelah melalui pemeriksaan seksama, terutama pada area anus. Pilihan utama pengobatan fistula ani adalah operasi. Terdapat beberapa teknik bedah yang dapat dilakukan sesuai kondisi fistula ani yang terjadi. Tujuan dari operasi adalah melindungi otot sfingter ani yang mengatur buang air besar serta   memperbaiki fistula ani dengan tuntas untuk mencegah kekambuhan.

Gejala Fistula Ani
Gejala yang ditunjukkan fistula ani, antara lain adalah:
  • Keluar darah atau nanah saat buang air besar.
  • Daerah sekitar anus membengkak dan menjadi merah.
  • Nyeri pada anus yang semakin parah saat duduk atau batuk.
  • Demam dan terasa lelah.
  • Inkontinensia alvi.
  • Iritasi kulit di sekitar anus.
  • Terdapat nanah disekitar anus.

Penyebab dan Faktor Risiko Fistula Ani
Fistula ani terjadi akibat abses anus yang tidak sembuh sempurna sehingga menyisakan saluran atau lubang kecil pada kulit di dekat anus. Penyebab ini yang paling banyak terjadi pada kasus fistula ani. Sekitar 50 persen penderita abses anus berisiko mengalami fistula ani.

Selain disebabkan abses pada anus, fistula ani juga dapat terjadi karena beberapa kondisi, termasuk gangguan saluran cerna bagian bawah atau daerah anus. Kondisi tersebut meliputi Crohn’s disease serta hidradenitis suppurativa. Di samping penyakit tersebut, beberapa infeksi seperti tuberkulosis atau infeksi HIV, serta divertikulitis juga bisa menimbulkan fistula ani. Penyebab fistula ani lainnya adalah komplikasi yang terjadi pasca operasi di dekat anus dan pasca radioterapi untuk kanker usus besar.

Diagnosis Fistula Ani
Pemeriksaan fisik, terutama pada area anus dan sekitarnya, akan dilakukan dokter jika pasien memilki gejala fistula ani. Guna menetapkan diagnosis, pemeriksaan penunjang perlu dilakukan, di antaranya:
  • Pemindaian. Pemeriksaan dengan pemindaian bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih detail, dalam hal ini kondisi daerah anus dan saluran abnormalnya (fistula). Pemindaian dapat dilakukan dengan foto Rontgen (fistulografi), USG, CT scan, dan MRI.
  • Anaskopi. Pemeriksaan ini menggunakan alat khusus berupa spekulum anus (anuscope) untuk melihat kondisi di dalam saluran anus.
  • Proktoskopi. Pemeriksaan dengan alat khusus yang memilki lampu ini bertujuan untuk melihat kondisi di dalam anus. Proktoskopi dapat melihat lebih dalam sampai rektum, yaitu bagian terakhir dari usus besar.
  • Fistula probe. Pemeriksaan fistula dengan alat dan pewarna khusus untuk melihat lokasi fistula yang  terbuka,
  • Kolonoskopi. Kolonoskopi merupakan pemeriksaan dengan selang kecil berkamera yang dimasukkan melalui anus untuk melihat kondisi usus besar. Tujuan kolonoskopi adalah untuk mengetahui apakah fistula ani itu disebabkan penyakit lain, misalnya Crohn’s disease atau kolitis ulseratif.
  • Pengobatan Fistula Ani
  • Fistula ani tidak dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga diperlukan tindakan pengobatan. Metode pengobatan utama yang diakukan adalah melalui operasi. Kendati demikian, layaknya suatu tindakan medis, operasi fistula ani memiliki beberapa risiko, di antaranya adalah kesulitan untuk mengatur buang air besar (inkontinensia alvi) dan fistula yang muncul kembali.

Operasi fistula ani didahului dengan pemeriksaan awal pada anus disertai pemberian anestesi umum. Pemeriksaan ini akan menetukan teknik bedah yang akan dilakukan dengan mempertimbangkan posisi fistula ani.

Salah satu teknik bedah yang dapat dilakukan adalah teknik seton placement. Dalam prosedur ini, benang bedah dipasang pada fistula agar posisinya terbuka sehingga nanah dari abses dapat keluar. Benang yang terpasang akan dikencangkan bertahap selama kontrol sehabis tindakan. Setelah luka sembuh sempurna, benang akan dilepas. Tujuan dari tindakan ini adalah mengalirkan nanah, memicu pertumbuhan jaringan ikat  dan memutus saluran atau fistula tersebut. Tindakan ini juga mengurangi risiko terjadinya komplikasi inkontinensia alvi.

Pilihan lain yang bisa dipertimbangkan adalah prosedur penambahan jaringan (advancement flap) yang diambil dari dinding rektum atau bagian akhir dari usus besar. Jaringan tersebut digunakan untuk menambal saluran fistula. Teknik bedah berikutnya yang bisa dilakukan adalah pemasangan penyumbat berbahan khusus. Penyumbat ini akan diserap sendiri oleh tubuh dan akhirnya menutup fistula. Pilihan lainnya yang juga bisa dipertimbangkan adalah pengangkatan saluran fistula berikut jaringan dan kelenjar  yang mengalami peradangan. Tindakan ini dinamakan litigation intersphincteric fistula tract atau LIFT.

Sedangkan prosedur yang paling banyak dilakukan untuk fistula ani adalah fistulotomi atau pembedahan kulit dan otot pada lokasi fistula, sehingga terdapat lubang terbuka. Fistula dikeruk dan dibersihkan serta dibiarkan terbuka. Kondisi ini memungkinkan penyembuhan terjadi dari dalam hingga ke permukaan saluran fistula.

Operasi fistula ani dapat dilakukan dengan atau tanpa rawat inap, Dalam beberapa kasus, pasien harus menginap hingga beberapa hari. Pasca operasi, dokter akan meresepkan obat pereda nyeri dan antibiotik untuk mengatasi rasa nyeri dan mencegah infeksi pasca operasi. Selain itu, perlu penanganan khusus dalam merawat luka pasca operasi. Di antaranya adalah berendam di air hangat 3-4 kali sehari, mengonsumsi obat pencahar agar tinja menjadi lunak, mengonsumsi makanan berserat tinggi dan banyak minum, serta menggunakan penyangga di area anus hingga pulih sepenuhnya. Pasien dapat kembali beraktivitas secara normal setelah dinyatakan sembuh oleh dokter.

Sumber : https://www.alodokter.com/fistula-ani

Fissura Anus


Fisura anus adalah robekan atau belahnya lapisan anus (anal mukosa). Gejala dan tanda-tanda yang muncul termasuk rasa sakit ketika buang air besar dan keluarnya darah merah terang dari anus.Masalah ini umum terjadi pada anak-anak mulai dari satu tahun, dan mempengaruhi sekitar delapan dari 10 bayi. Kerentanan seseorang untuk terkena fisura anus cenderung menurun dengan bertambahnya usia. Penyebab umum pada orang dewasa termasuk sembelit dan trauma pada anus (seperti proses melahirkan yang sulit).

Kapan saya perlu menjalani operasi fisura anus?
Sekitar setengah dari kasus yang terjadi dapat sembuh dengan sendiri dengan perawatan yang tepat dan menghindari sembelit. Namun, penyembuhan bisa menjadi masalah jika tekanan saat buang air besar terus membuka kembali luka. Pilihan pengobatan termasuk operasi.

Apa yang harus saya ketahui sebelum menjalani operasi fisura anus?
Pembedahan biasanya melibatkan memotong sebagian kecil dari otot sfingter anal untuk mengurangi kejang dan nyeri dan mempercepat penyembuhan. Pembedahan memiliki resiko kecil yang menyebabkan inkontinensia.

Apakah ada alternatif untuk operasi?
Ada pengobatan sederhana yang dapat membantu seperti obat pencahar, salep, suntikan bontulinum toksin, meningkatkan jumlah serat dalam diet And,a dan minum banyak cairan.

Apa yang harus saya lakukan sebelum operasi fisura anus?
Operasi yang juga disebut sphincterotomy lateral ini dapat dilakukan dengan anestesi lokal. Dokter anestesi atau dokter Anda akan menjelaskan bagaimana mempersiapkan untuk prosedur Anda. Sangat penting untuk menginformasikan pada dokter jika Anda sedang meminum obat-obatan, khususnya jenis obat yang disebut agen pengencer darah. Anda juga diminta untuk tidak makan atau minum, biasanya selama sekitar enam jam sebelumnya. Sangat penting untuk mengikuti saran dokter anestesi, dokter bedah, dan dokter Anda. Anda tidak boleh minum alkohol 24 jam sebelum Anda diberi anestesi lokal atau obat penenang.

Bagaimana proses operasi fisura anus?
Ada beberapa teknik bedah untuk mengobati fisura anus.
  • Lateral internal sphincterotomy
Prosedur ini memiliki tingkat kesembuhan yang terbaik dan merupakan prosedur yang paling banyak digunakan untuk fisura anus. Dalam operasi ini, dokter bedah Anda akan membuat luka kecil di otot internal anal sphincter dengan sayatan panjang.
  • Fissurectomy

Dalam prosedur ini fisura anus Anda diangkat sepenuhnya, meninggalkan luka terbuka untuk sembuh secara alami. Operasi ini dapat diterapkan sebagai tindakan tunggal, atau dengan lateral sphincterotomy, atau dengan obat-obatan seperti gliseril trinitrat atau suntikan botulinum A toxin. Anda mungkin harus menjalani fissurectomy jika Anda mengidap fistula anal (struktur seperti terowongan di antara kulit sekitar anus dan rektum) serta fisura anus.

  • Advancement flaps

Ini adalah teknik yang melibatkan pergantian jaringan yang rusak  dengan jaringan sehat. Jenis operasi ini lebih kompleks dan biasanya hanya dianjurkan bila pilihan bedah lainnya telah gagal.

Apa yang harus saya lakukan setelah operasi fisura anus?
Anda akan perlu istirahat sampai efek dari anestesi selesai dan Anda mungkin perlu beberapa obat pereda nyeri untuk membantu meredakan rasa tidak nyaman. Anda biasanya akan dapat pulang ke rumah kapanpun Anda merasa siap tapi kadang-kadang Anda mungkin perlu tinggal di rumah sakit semalam. Jika Anda membutuhkan penghilang rasa sakit, Anda tidak boleh meminum obat-obatan yang mengandung codein karena mereka dapat menyebabkan sembelit. Jika Anda memiliki pertanyaan, tanyakan kepada apoteker Anda untuk meminta nasihat. Anda akan perlu membuka penutup luka sebelum buang air besar. Hati-hati dalam mencuci dan mengeringkan daerah bekas luka sesudahnya. Dapat memakan waktu beberapa bulan untuk pemulihan penuh dari operasi fisura anus, tapi hal ini bervariasi antara individu, jadi penting untuk mengikuti saran dokter bedah Anda.
Apabila Anda memiliki pertanyaan yang berkaitan dengan proses tes ini, konsultasikanlah kepada dokter Anda untuk pemahaman yang lebih baik.

Komplikasi apa yang bisa terjadi?
Komplikasi adalah ketika masalah terjadi selama atau setelah operasi. Kebanyakan orang tidak mengalami komplikasi ini, namun komplikasi operasi fisura anus meliputi: infeksi - ini biasanya dapat diobati dengan antibiotik, tetapi kadang-kadang dapat berkembang menjadi abses anus dan perlu operasi lebih lanjut fistula anal - ini dapat diobati dengan pembedahan kerusakan otot anal sphincter - ini dapat mempengaruhi kontrol usus dan dapat menyebabkan inkontinensia fisura kambuh - fisura mungkin bisa kembali lagi setelah operasi

Jika Anda memiliki pertanyaan tentang kemungkinan komplikasi, silakan berkonsultasi dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Sumber : https://hellosehat.com/kesehatan/operasi/operasi-fisura-anus/

Fibrosis Pulmoner Idiopatik


Fibrosis paru adalah munculnya jaringan parut pada paru-paru yang menyebabkan kerusakan dan terganggunya fungsi paru-paru. Kerusakan ini menyebabkan jaringan di sekitar kantung udara di dalam paru-paru (alveolus) menebal dan kaku sehingga sulit bagi oksigen untuk masuk ke dalam darah.
Seorang penderita fibrosis paru akan mengalami kesulitan bernapas diakibatkan kondisi yang terjadi pada paru-parunya tersebut. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, namun penyebabnya yang sesungguhnya masih belum diketahui hingga kini sehingga penyakit ini biasa disebut juga dengan fibrosis paru idiopatik.

Orang-orang yang berusia lanjut merupakan kelompok orang yang rentan terkena penyakit ini, yaitu usia 50 tahun ke atas. Angka kejadian pada pria tercatat lebih tinggi dibandingkan wanita. Pengobatan penyakit ini bertujuan untuk mengurangi gejala yang dirasakan penderitanya karena paru-paru yang rusak akibat ini tidak bisa diperbaiki.

Penyebab Fibrosis Paru
Kerusakan paru-paru dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang berbeda, termasuk terapi radiasi maupun dari obat-obatan tertentu. Walau penyebab pastinya masih belum diketahui, berikut adalah beberapa faktor utama dan faktor risiko yang bisa menjadi pemicu fibrosis paru.
  • Kondisi medis. Fibrosis paru dapat berkembang dari beberapa penyakit yang dimiliki oleh seseorang, seperti pneumonia, rheumatoid arthritis, sarkoidosis, dermatomyositis, dan berbagai penyakit jaringan ikat.
  • Obat-obatan tertentu. Beberapa obat-obatan yang dapat merusak jaringan di paru-paru, antara lain obat kemoterapi, penyakit jantung, antiinflamasi, dan antibiotik.
  • Pengobatan dengan menggunakan terapi radiasi. Pengobatan ini akan merusak paru-paru jika dilakukan dalam jumlah yang banyak, waktu yang lama, terdapat penyakit paru yang mendasari, dan digabung dengan kemoterapi. Tanda-tanda kerusakan paru dapat mulai terlihat berbulan-bulan hingga tahunan sejak penderita pertama terpapar radiasi.
  • Faktor lingkungan yang berhubungan dengan pekerjaan atau okupasi. Lingkungan atau pekerjaan yang membuat seseorang terpapar zat beracun atau sumber polusi dalam jangka panjang juga dapat membahayakan paru-parunya. Beberapa zat dan pekerjaan yang berisiko, antara lain serbuk batu bara, asbes, silika, logam keras, butiran debu, kotoran hewan maupun burung, pekerja tambang, konstruksi, dan buruh tani.
  • Usia dan jenis kelamin. Fibrosis paru lebih banyak dialami oleh pria lansia dan dewasa dibanding perempuan ataupun anak-anak.
  • Faktor keturunan. Beberapa fibrosis paru diturunkan dalam keluarga sehingga faktor gen dapat menjadi faktor risiko dari kondisi ini.
  • Kebiasaan merokok. Asap tembakau, perokok, maupun orang yang pernah merokok, serta penderita emfisema akan memiliki risiko terkena fibrosis paru lebih besar dibanding orang yang tidak merokok sama sekali.

Gejala Fibrosis Paru
Gejala dan tingkat keparahan fibrosis paru dapat berbeda-beda pada masing-masing penderita. Penderita yang satu dapat mengalami gejala yang berat dengan kondisi yang memburuk dengan cepat, sementara penderita lainnya hanya mengalami gejala yang sedang dengan perkembangan yang lebih lambat.

Gejala fibrosis paru berkembang secara berkala, biasanya berlangsung selama lebih dari 6 bulan, dengan gejala yang paling sering dialami adalah sesak nafas dan batuk. Berikut adalah gejala fibrosis paru lainnya yang perlu diperhatikan:

Nafas yang pendek hingga penderita mengalami kesulitan bernapas dengan baik (dyspnea), bahkan ketika melakukan aktivitas yang tergolong ringan, misalnya berpakaian. Tidak sedikit orang yang menganggap gejala ini sebagai akibat dari pertambahan usia atau kurangnya olahraga.
  • Kelelahan
  • Batuk kering
  • Nyeri otot dan sendi
  • Berkurangnya berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Ujung jari tangan dan kaki yang melebar dan membulat

Penderita dengan gejala yang memburuk dalam hitungan hari atau minggu akan memerlukan penanganan khusus dari dokter. Segera temui dokter jika Anda mengalami kesulitan bernapas selama beberapa waktu dan batuk yang berlangsung selama lebih dari 3 minggu.

Diagnosis Fibrosis Paru
Sebelum merekomendasikan pengobatan apa yang sesuai untuk penderita fibrosis paru, dokter akan melakukan proses diagnosis yang terdiri dari evaluasi riwayat penyakit pasien dan keluarga, pemeriksaan fisik, dan berbagai tes penunjang.

Selain itu, dokter juga akan memeriksa gejala dan bertanya apakah pasien pernah terpapar zat-zat tertentu yang bisa menjadi pemicu penyakit ini. Pada pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa kemampuan paru-paru dengan mendengarkan pasien bernapas.

Terdapat beberapa jenis tes penunjang yang mungkin harus dilalui penderita guna memastikan gejala dan diagnosis fibrosis paru, yaitu:
  • Tes darah. Tes ini dilakukan untuk mengevaluasi fungsi hati dan ginjal dan sekaligus untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi kesehatan lainnya.
  • Tes fungsi paru. Beberapa jenis tes yang mungkin dilakukan adalah:
  • Spirometri – Mengukur sebanyak apa udara yang bisa dihirup, ditahan, dan dikeluarkan dari paru-paru.
  • Oksimeteri nadi – Mengukur saturasi udara di dalam darah.
  • Uji tekanan – Dilakukan ketika pasien beraktivitas di atas treadmill atau sepeda statis untuk mengetahui fungsi paru ketika sedang beraktivitas.
  • Analisa gas darah – Mengukur kadar oksigen dan karbondioksida di dalam darah dengan menggunakan contoh darah pasien.
  • Tes pencitraan (pindai) tubuh. Beberapa jenis pemindaian tubuh yang mungkin dilakukan adalah:
  • X-ray dada – Untuk mencari tahu jaringan parut pada paru-paru dan memantau perkembangan penyakit dan pengobatan yang sedang dijalani.
  • CT scan – Untuk mengetahui seberapa besar kerusakan yang dialami oleh paru-paru dengan lebih jelas.
  • Ekokardiogram – Untuk mengetahui struktur dan fungsi jantung khususnya tingkat tekanan pada ventrikel kanan jantung yang bisa memicu komplikasi gagal jantung.
  • Tes jaringan atau biopsi. Tes ini dilakukan dengan cara mengambil sebagian kecil jaringan paru-paru untuk diperiksa di laboratorium. Beberapa jenis biopsi yang umumnya dilakukan adalah:
  • Bronkoskopi – Untuk mendapatkan contoh jaringan yang lebih kecil menggunakan tabung kecil yang fleksibel yang dimasukkan melalui mulut atau hidung hingga ke paru-paru.
  • Biopsi melalui prosedur operasi  – Untuk mendapatkan contoh jaringan yang lebih besar menggunakan prosedur bedah torakoskopik dengan bantuan video (VATS) atau prosedur torakotomi yaitu bedah terbuka. Kedua prosedur ini dilakukan dengan cara membuat irisan di area dada, tepatnya di antara tulang rusuk, dan dengan bius umum pada penderita.

Pengobatan Fibrosis Paru
Kerusakan paru-paru pada kondisi ini hanya dapat diperlambat dan dikurangi dampak dari gejalanya dengan pemberian obat-obatan dan melakukan rangkaian terapi. Apabila terapi konvensional dengan obat-obatan gagal, transplantasi paru mungkin akan direkomendasikan oleh dokter Anda. Berikut adalah beberapa metode pengobatan fibrosis paru yang umum dilakukan.
  • Obat-obatan – Untuk memperlambat perkembangan fibrosis paru dan gangguan saluran pencernaan yang umumnya dialami oleh pemilik kondisi ini. Beberapa contoh obat-obatan, yaitu pirfenidone, nintedanib. Beberapa efek samping dari obat-obatan ini, antara lain ruam, mual, dan diare.
  • Rehabilitasi paru – Untuk mengurangi gejala dan menunjang fungsi tubuh, melatih ketahanan fisik, dan meningkatkan teknik pernapasan guna melatih efisiensi paru.
  • Terapi oksigen – Untuk membuat latihan dan pernapasan itu sendiri menjadi lebih mudah, mengurangi risiko terjadinya komplikasi akibat kadar oksigen yang rendah, dan mengurangi tekanan darah di sisi kanan jantung. Terapi ini juga akan membantu memperbaiki kualitas tidur dan kesejahteraan hidup penderita. Terapi dapat diberikan ketika pasien tidur atau latihan, dan ada juga yang menggunakannya setiap saat.
  • Transplantasi paru – Selain manfaat baik dari transplantasi paru, dokter akan mendiskusikan juga risiko komplikasi berupa penolakan tubuh terhadap organ pengganti kepada pasien.

Selain pengobatan yang bersifat medis, penderita fibrosis dapat juga mulai mengambil tindakan aktif dalam perawatan yang tengah dilaluinya untuk menjaga dan meningkatkan kesehatannya sendiri. Beberapa langkah yang bisa dilakukan, adalah:
  • Ikuti rencana perawatan yang sedang dijalani, janji temu dengan dokter, instruksi dokter, jadwal minum obat, dan ikuti diet makanan maupun jadwal latihan yang telah dianjurkan.
  • Menjaga makan dengan nutrisi yang berimbang dan lebih sering dengan porsi makanan yang lebih kecil. Langkah ini penting karena penderita fibrosis paru umumnya mengalami penurunan berat badan akibat kondisinya yang membuat tidak nyaman ketika bernapas juga ketika makan. Diskusikan pilihan menu makanan yang sesuai dengan kondisi Anda.
  • Berhenti merokok. Jika mengalami kesulitan menghentikan kebiasaan ini, Anda dapat mendiskusikan program apa saja yang cocok untuk dijalani bersama dokter Anda. Hindari juga berada di dekat orang-orang yang merokok karena menghirup asap rokok juga dapat memengaruhi paru-paru.
  • Olah tubuh rutin dapat membantu menjaga fungsi paru dan mengendalikan stres. Kegiatan seperti jalan kaki dan bersepeda bisa dilakukan namun akan membutuhkan waktu dan proses. Diskusikan dengan dokter jenis olahraga apa yang sesuai dengan kondisi Anda.
  • Pastikan Anda memiliki waktu istirahat yang cukup dengan demikian Anda akan memiliki lebih banyak energi dan dapat mengurangi stres yang dirasakan akibat kondisi ini.
  • Pastikan Anda dan keluarga mendapatkan vaksin pneumonia dan flu tahunan agar terhindar dari infeksi saluran pernapasan yang bisa memperburuk kondisi fibrosis paru. Hindari juga bertemu dengan banyak orang di musim flu tengah merebak.
  • Pada beberapa orang, perawatan fibrosis paru dapat membawa pengaruh yang baik sehingga mereka dapat tidak terganggu oleh gejala dari kondisi ini hingga bertahun-tahun lamanya. Namun ada juga yang kondisinya memburuk dengan cepat.

Fibrosis paru memang termasuk salah satu jenis penyakit yang dapat bertambah parah seiring waktu. Menjadi aktif dan mempelajari mengenai penyakit ini dapat membantu Anda dan juga orang-orang di sekitar dalam melalui proses perawatan.

Bersikap terbuka dengan dokter Anda juga dianjurkan khususnya ketika stres dan depresi menyerang. Dokter dapat merujuk Anda pada seorang ahli kesehatan mental atau menyarankan langkah alternatif lainnya untuk meringankan kondisi Anda.

Pemantauan kesehatan rutin dapat membantu pasien mengetahui perkembangan penyakit ini dan kondisi kesehatannya. Seiring perkembangan kondisi, dokter mungkin akan mulai mendiskusikan perihal perawatan akhir hidup dan langkah-langkah lain yang harus dipersiapkan bersama pasien dan keluarga.

Komplikasi Fibrosis Paru
Berikut adalah beberapa komplikasi yang mungkin berkembang jika fibrosis paru tidak segera diobati.
  • Komplikasi paru, misalnya penggumpalan darah di paru-paru, infeksi paru-paru, atau paru-paru yang gagal berfungsi.
  • Gagal pernapasan sebagai akibat penyakit paru yang parah, ketika kadar oksigen di paru-paru berada di level yang sangat rendah
  • Tekanan darah tinggi dalam paru-paru atau hipertensi pulmonal ketika jaringan parut memengaruhi pembuluh darah paru dan menyebabkan aliran darah terganggu.
  • Gagal jantung sisi kanan atau cor pulmonale, yaitu disebabkan oleh ventrikel jantung sebelah kanan bawah yang bekerja terlalu keras memompa darah melalui pembuluh darah paru yang tersumbat.
  • Kanker paru-paru yang berkembang dari fibrosis paru jangka panjang.


Sumber : https://www.alodokter.com/fibrosis-paru

Fibrosis Kistik


Cystic fibrosis atau fibrosis kistik adalah penyakit genetika yang menyebabkan lendir-lendir di dalam tubuh menjadi kental dan lengket, sehingga menyumbatberbagai saluran, terutama saluran pernapasan dan pencernaan.

Dalam keadaan normal, lendir di dalam tubuh bersifat cair, licin, dan berperan sebagai pelumas. Sedangkan pada penderita fibrosis kistik, terdapat kelainan pada gen yang menyebabkan lendir menjadi lengket dan menghambat sejumlah saluran, termasuk saluran yang terdapat pada paru-paru dan pankreas. Kondisi ini mengakibatkan gangguan pernapasan dan pencernaan bagi penderitanya sejak usia dini.
Fibrosis kistik dapat didiagnosis melalui pemeriksaan darah pada bayi yang baru saja dilahirkan. Jika terdiagnosis menderita fibrosis kistik, penanganannya biasanya berupa kombinasi dari pemberian obat dan terapi. Pilihan operasi juga dapat dilakukan jika kondisi sudah parah. Bentuk penanganan akan bergantung pada kondisi kesehatan dan gejala yang dialami penderita.

Gejala Cystic Fibrosis
Gejala fibrosis kistik dapat berbeda-beda tergantung pada tingkat keparahan penyakit tersebut. Gejala dapat muncul setelah kelahiran atau baru muncul saat seseorang telah beranjak dewasa.

Penyumbatan saluran udara bisa terjadi pada penderita fibrosis kistik. Hal ini akan menimbulkan beberapa gejala seperti
  • Batuk berkepanjangan
  • Napas pendek.
  • Diare.
  • Muntah
  • Sesak napas atau sulit bernapas
  • Mengi (bengek).
  • Saluran udara melebar akibat peradangan (bronkiektasis).
  • Selain gejala-gejala di atas, infeksi paru-paru juga rentan dialami oleh penderita fibrosis kistik karena lendir menjadi tempat yang sesuai untuk perkembangbiakan bakteri.

Kondisi yang sama juga dapat terjadi dalam sistem pencernaan, di mana saluran pankreas dapat tersumbat oleh lendir yang lengket. Akibatnya, enzim pencernaan yang dihasilkan oleh pankreas tidak dapat mencapai usus halus, untuk membantu mencerna makanan. Kondisi ini kerap menimbulkan gejala berupa:
  • Penurunan berat badan atau bahkan pertumbuhan yang terhambat akibat makanan yang tidak tercerna dengan baik sehingga penderita kekurangan nutrisi atau malnutrisi.
  • Tekstur tinja yang menggumpal, berminyak, dan berbau tajam.
  • Sembelit yang parah.
  • Gangguan proses pembuangan kotoran awal (mekonium) pada hari pertama atau kedua setelah lahir, karena adanya penyumbatan. Kondisi ini disebut ileum mekonium.
  • Warna kulit bayi menjadi kuning (jaundice).

Selain gejala pada sistem pernapasan dan pencernaan, penderita fibrosis kistik juga rentan terkena:
  • Infeksi hidung, seperti polip hidung dan sinusitis.
  • Diabetes akibat pankreas tidak dapat memproduksi insulin yang cukup.
  • Kemandulan pada pria akibat terhalangnya saluran yang membawa sperma, serta kemandulan pada wanita akibat terganggunya siklus menstruasi dan tebalnya cairan di dinding rahim.
  • Kondisi tulang yang melemah dan menipis (osteoporosis).
  • Inkontinensia urin karena hilangnya kontrol otomatis dari kandung kemih sehingga urin bisa merembes keluar kapan saja.
  • Gangguan hati.

Penyebab Cystic Fibrosis
Fibrosis kistik merupakan penyakit keturunan atau kelainan yang didapat seseorang dari kedua orang tuanya akibat adanya mutasi pada gen. Setengah dari anak-anak yang memiliki orang tua dengan kelainan genetik ini merupakan pembawa sifat (carrier), yang mungkin dapat menurunkan kelainan ini pada keturunannya. Sedangkan seperempatnya menjadi penderita fibrosis kistik.

Kelainan genetik tersebut mengubah protein yang mengatur keluar-masuknya garam pada sel, sehingga membentuk lendir yang lengket dalam berbagai saluran tubuh.

Diagnosis Cystic Fibrosis
Diagnosis untuk mengetahui keberadaan cystic fibrosis atau fibrosis kistik dapat dilakukan sejak bayi baru lahir. Tujuannya adalah agar pengobatan bisa dilakukan sedini mungkin.

Salah satu jenis pemeriksaan yang umum dilakukan adalah pemeriksaan DNA. Dalam metode ini, kerusakan pada gen yang menyebabkan fibrosis kistik dapat terdeteksi. Sebelum tes DNA dilakukan, dokter biasanya akan merekomendasikan pemeriksaan darah terlebih dahulu untuk melihat adanya indikasi fibrosis kistik saat bayi berumur 8 hari. Selanjutnya, jika dipandang perlu, pemeriksaan genetik atau DNA dapat dilakukan. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil sampel DNA dari air liur atau darah bayi.

Jenis pemeriksaan lainnya adalah tes sampel keringat. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mendeteksi adanya fibrosis kistik melalui pengukuran kadar garam dalam keringat. Umumnya kadar garam penderita fibrosis kistik lebih tinggi dari ukuran normal. Pemeriksaan sampel keringat biasanya sudah bisa dilakukan pada saat bayi berusia setidaknya 2 minggu.

Pemeriksaan berikutnya guna menentukan diagnosis fibrosis kistik adalah nasal potential difference test. Dalam pemeriksaan ini, elektroda dipasang pada hidung untuk melihat kelancaran aliran garam di dalam saluran hidung.

Selain itu ada pemeriksaan fungsi organ untuk mengukur tingkat kesehatan organ hati dan pankreas. Metode ini juga dapat dipakai untuk mendeteksi adanya gejala diabetes dan biasanya dilakukan secara berkala setelah pasien berumur sepuluh tahun.

Jika dari hasil pemeriksaan dapat dipastikan seorang anak menderita fibrosis kistik, maka dilakukan pemeriksaan lanjutan guna mengetahui kondisi penyakit tersebut. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:
  • Pemindaian dengan foto Rontgen untuk mendapatkan gambaran dada, termasuk jantung dan paru-paru.
  • Pemindaian dengan CT scan untuk melihat adanya gangguan serius pada pankreas, paru-paru, atau organ lainnya.
  • Pemeriksaan fungsi hati untuk mendeteksi adanya komplikasi dari fibrosis kistik.
  • Pemeriksaan tenggorokan atau dahak untuk mengetahui bakteri yang menyebabkan infeksi.
  • Pemeriksaan fungsi paru serta analisis kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah untuk menilai kinerja paru-paru.
  • Analisis tinja untuk melihat kemampuan tubuh dalam mencerna dan menyerap gizi dalam makanan.
  • Pemeriksaan ini juga dianjurkan untuk anak atau orang dewasa yang belum melakukan pemeriksaan darah saat lahir, terutama yang mengalami infeksi berulang, kemandulan (pada pria), pankreatitis atau radang pankreas, dan polip hidung.

Pengobatan Cystic Fibrosis
Hingga saat ini, fibrosis kistik tidak dapat disembuhkan. Penanganan yang dilakukan hanya sebatas untuk meredakan gejala, mencegah munculnya komplikasi dan infeksi, serta membantu penderita menjalani aktivitas sehari-hari. Penanganan dapat berupa:

Pemberian Obat
Obat yang paling umum dipakai adalah antibiotik untuk melawan infeksi di dalam paru-paru. Bentuk penggunaan antibiotik ini bermacam-macam, ada yang diminum sebagai kapsul, pil, atau sirup, dan ada juga yang digunakan melalui infus atau suntikan. Contoh obat antibiotik untuk fibrosis kistik di antaranya adalah tobramycin dan ciprofloxacin.

Selain antibiotik, dapat juga diberikan obat lainnya untuk mengurangi peradangan pada paru-paru, seperti prednisone atau fluticasone yang masuk ke dalam golongan kortokosteroid, cromolyn yang masuk ke dalam golongan penstabil membran, dan ibuprofen yang masuk ke dalam golongan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs).

Obat-obatan pengendali volume lendir dan pencair lendir dalam paru-paru juga dapat diresepkan untuk penderita fibrosis kistik. Contoh obat jenis ini adalah larutan hipertonik untuk membersihkan lendir di paru-paru, deoxyribonuclease (DNase) yang berfungsi mengencerkan lendir dalam paru-paru, mukolitik (misalnya acetylcysteine) untuk mengurangi tingkat kekentalan lendir di dalam usus, dan ivacaftor guna mengurangi kadar lendir di dalam tubuh.

Untuk memperlebar saluran pernapasan dan melegakan pernapasan, dapat digunakan obat golongan bronkodilator (misalnya albuterol dan salmeterol) atau antikolinergik (misalnya ipratropium bromide). Kedua jenis obat tersebut juga berfungsi mempermudah pengeluaran lendir melalui batuk. Sedangkan untuk membantu penyerapan gizi makanan, dapat diberikan pankrealipase sebagai sebagai pengganti enzim pankreas

Terapi Lainnya
Selain dengan pemberian obat, gejala-gejala fibrosis kistis juga dapat diatasi dengan fisioterapi, meliputi:
  • Terapi untuk mengeluarkan lendir kental dari dalam tubuh melalui penepukan pada dada atau punggung, teknik pernapasan, atau alat khusus.
  • Terapi oksigen murni untuk mengatasi penurunan kadar oksigen dalam darah dan mencegah hipertensi paru.
  • Latihan fisik dan olahraga untuk meningkatkan kebugaran.
  • Modified postural drainage, agar lendir mudah dikeluarkan dari paru paru dengan melakukan perubahan posisi tubuh.
  • Prosedur Operasi

Penanganan fibrosis kistik dengan prosedur operasi disarankan oleh dokter apabila gejala yang diderita makin parah dan tidak bisa lagi ditangani dengan obat-obatan atau metode lainnya. Pada kasus fibrosis kistik parah dengan paru-paru yang tidak lagi dapat berfungsi, operasi transplantasi paru-paru mungkin merupakan satu-satunya cara yang paling efektif untuk memperpanjang usia penderita, meski operasi ini sendiri tergolong sangat berisiko. Tindakan operasi juga dibutuhkan apabila fibrosis kistik menyebabkan penyumbatan pada usus besar, untuk menghilangkan sumbatan tersebut.

Komplikasi Cystic Fibrosis
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakit fibrosis kistik adalah:
  • Infeksi kronis, seperti bronkitis, pneumonia, dan sinusitis.
  • Pneumotoraks, yaitu penimbunan udara pada rongga pleura (rongga yang memisahkan paru-paru dan dinding dada).
  • Bronkiektasis, yaitu kerusakan pada saluran pernapasan yang mengakibatkan penderita lebih sulit lagi untuk mengeluarkan dahak.
  • Eksaserbasi akut, yaitu memburuknya gejala secara tiba-tiba, yang ditandai dengan napas pendek atau batuk selama beberapa hari atau beberapa minggu, dan membutuhkan perawatan di rumah sakit.
  • Hemoptisis atau batuk darah, akibat penipisan dinding saluran pernapasan.
  • Gagal napas akibat kondisi paru-paru yang memburuk.


Sumber : https://www.alodokter.com/cystic-fibrosis

Fibroid


Fibroid adalah tumor jinak yang terjadi di bagian atas atau di dalam otot rahim. Satu sel membelah berkali-kali dan terus berkembang menjadi menjadi sebuah massa solid yang terpisah dari bagian rahim. Tumor ini dapat berkembang menjadi sebuah atau beberapa blok dengan ukuran yang berbeda-beda.

Tumor kecil tidak akan menimbulkan gejala, tetapi tumor yang lebih besar dapat menyebabkan perdarahan dan mengakibatkan lebih banyak darah yang keluar saat menstruasi. Tumor yang besar akan menekan kandung kemih dan menyebabkan tonjolan pada perut layaknya orang yang sedang hamil.

Seberapa umumkah fibroid rahim?

Sekitar 60% wanita di atas usia 50 tahun menderita uterine fibroid. Fibroid adalah penyakit yang paling populer di kalangan wanita berusia antara 40-50 tahun. Penyakit ini dapat diatasi dengan mengurangi faktor risiko Anda. Silakan diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Apa saja tanda-tanda dan gejala fibroid rahim?

Sekitar 30-50% kasus fibroid tidak menunjukkan gejala apapun. Jika tidak, biasanya gejala berkaitan dengan ukuran dan lokasi fibroid.

Fibroid dapat tumbuh cukup besar dan membuat si penderita terlihat seperti sedang hamil serta mengalami gejala mirip kehamilan seperti:
  • Tegang pada bagian panggul yang parah
  • Sering buang air kecil
Dapat mengakibatkan sembelit, nyeri punggung, nyeri selama hubungan seksual, dan nyeri panggul
Fibroid di dinding rahim atau di dalam rahim dapat menyebabkan perdarahan atau menorrhagia dan dismenorea. Dalam kasus yang jarang terjadi, fibroid dapat menyebabkan rasa sakit atau perdarahan tiba-tiba.

Dalam kasus fibroid yang berkembang selama kehamilan, tumor dapat menyebabkan sejumlah komplikasi selama kehamilan. Tumor akan membuat plasenta janin kekurangan oksigen. Tumor akan menggeser posisi janin, menyebabkan ibu sulit melahirkan secara normal melainkan melalui operasi caesar. Pada kebanyakan kasus, janin masih bisa berkembang secara normal meskipun terdapat tumor di dalam rahim, namun tumor akan tumbuh lebih cepat selama masa kehamilan.

Kapan saya harus periksa ke dokter?
Meskipun fibroid adalah tumor jinak, namun ia dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dalam aktivitas sehari-hari dan dalam kasus yang ekstrem dapat mengakibatkan perdarahan. Anda harus segera menemui dokter apabila Anda mengalami:
  • Nyeri panggul dan tidak segera hilang
  • Menorrhagia atau dismenorea
  • Pendarahan eksternal atau pendarahan menstruasi
  • Nyeri saat berhubungan seksual
  • Pertumbuhan pada uterus dan perut
  • Sulit buang air kecil
Apa penyebab fibroid rahim?
Dokter belum menemukan penyebab pasti penyakit ini. Tetapi beberapa faktor dapat bergabung dan menyebabkan penyakit, yaitu:
  • Perubahan genetik: fibroid multipel dapat menyebabkan perubahan pada sel otot rahim yang normal. Ada bukti yang menunjukkan bahwa fibroid cenderung terjadi pada keluarga muda dan pasangan kembar identik yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap fibrosis daripada kembar fraternal.
  • Estrogen dan progesteron, dua hormon ini merangsang pertumbuhan endometrium selama siklus menstruasi untuk mempersiapkan kehamilan. Tampaknya hormon tersebut telah memberikan kontribusi untuk membantu perkembangan fibroid. Fibroid memiliki reseptor estrogen dan progesteron yang lebih banyak daripada sel-sel otot dan rahim normal, sehingga cenderung menyusut setelah menopause karena produksi hormon menurun.
  • Faktor pertumbuhan lainnya. Faktor-faktor ini membantu menjaga keadaan homeostasis tubuh, seperti zat semacam insulin yang juga dapat mempengaruhi pertumbuhan fibroid.
Apa yang meningkatkan risiko saya untuk fibroid rahim?
Ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena uterine fibroid, meliputi:
  • Genetika: Jika ibu atau saudara perempuan memiliki fibroid, maka Anda memiliki risiko tinggi terhadap kemungkinan terserang penyakit ini.
  • Usia: Wanita yang berusia lebih dari 40-50 tahun umumnya memiliki fibrosis. Setelah menopause, tumor akan menyusut.
  • Ras: wanita berkulit hitam memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit ini di usia muda dengan ukuran tumor atau fibroid yang lebih besar.
  • Faktor lainnya: menstruasi dini, lebih banyak mengonsumsi daging merah, kurang makan sayuran, buah, serta sering meminum bir.
Apa saja pilihan pengobatan saya untuk fibroid rahim?
Kebanyakan fibroid tidak membutuhkan pengobatan. Anda hanya perlu melakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan fibroid tidak berkembang terlalu besar atau menimbulkan masalah lain.

Obat-obatan dapat digunakan sebagai penghambat kinerja hormon. Jika gejala terus terjadi, dokter dapat menyarankan operasi pengangkatan rahim atau fibroid jika pasien masih berkeinginan memiliki anak.

Metode baru adalah embolisasi arteri rahim dengan memotong pembuluh darah di sekitar fibroid. Kemungkinan dokter juga akan menggunakan metode lisis mekanik (menggunakan arus listrik untuk menghancurkan fibroid dan mengecilkan pembuluh darah yang memasok vitamin menuju fibroid); dan metode lisis mekanik menggunakan cryogenic (menggunakan nitrogen cair dan bukan arus listrik).

Namun, bagaimanapun fibroid bisa kambuh. Kemungkinan pasien harus menjalani operasi lagi. Obat baru bisa menghambat pertumbuhan fibroid, tapi hanya sementara.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk fibroid rahim?
Dokter akan memeriksa panggul. Jika Anda memiliki gejala fibroid, dokter dapat menyarankan tes berikut.
  • USG: jika perlu, dokter akan memindai dengan USG. Metode ini menggunakan gelombang suara untuk mengonfirmasi diagnosis serta mencari dan mengetahui ukuran fibroid. Dokter atau teknisi akan meletakkan USG pada perut (bersandar di perut) atau memasukkannya ke dalam vagina dan dilanjutkan dengan mengambil gambar dari rahim.
  • Tes darah: jika Anda memiliki perdarahan vagina yang tidak normal, dokter akan memeriksa kemungkinan penyebabnya, termasuk jumlah darah (CBC) untuk mengetahui adanya anemia kronis serta tes darah lainnya untuk menyingkirkan koagulopati atau tiroid penyakit.
  • Jika USG konvensional tidak memberikan informasi yang cukup jelas, maka dokter akan merekomendasikan fasilitas penggambaran diagnostik, seperti:
  • Magnetic resonance imaging (MRI): Metode ini dapat menunjukkan ukuran, lokasi fibroid, mengenali jenis tumor yang berbeda, dan memilih perawatan yang tepat.
  • USG rahim, juga disebut USG pompa air garam yang menggunakan garam steril untuk membuka rongga uterus, sehingga mempermudah proses perekaman rahim dan endometrium. Tes ini dapat berguna jika Anda mengalami menorrhagia parah, tetapi hanya akan menghasilkan keadaan normal bila diperiksa menggunakan USG konvensional.
  • Mengangkat saluran uterus: menggunakan pewarna untuk menyoroti rahim dan saluran telur pada film X-ray. Dokter tidak dapat melakukan ini jika masalah Anda berkaitan dengan ketidaksuburan. Selain mendeteksi fibroid, metode ini juga membantu dokter melihat apakah tuba fallopi terhalang atau tidak.
  • Histeroskopi: dengan teknik ini, dokter akan menempatkan sebuah tabung kecil yang berisi detektor cahaya melalui serviks dan masuk ke uterus. Kemudian, dokter akan menyuntikkan garam ke dalam rahim untuk memperbesar rongga uterus, memungkinkan pengamatan ke dalam rahim dan tuba fallopi.
Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi fibroid rahim?
Berikut gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi penyakit ini.
  • Lakukan pemeriksaan rutin untuk memantau perkembangan tumor dan adanya komplikasi jika Anda memiliki tumor besar.
  • Katakan kepada dokter Anda tentang kekhawatiran Anda serta gejala yang dirasakan.

Sumber : https://hellosehat.com/penyakit/fibroid-rahim/

Fibroadenoma


Fibroadenoma adalah tumor jinak yang muncul pada payudara Anda. Tidak semua benjolan yang muncul pada payudara Anda merupakan fibroadenoma. Orang sering keliru  antara fibroadenoma dengan tumor kanker payudara. Perbedaan antara kedua jenis ini adalah bahwa fibroadenoma tidak menjadi lebih besar seiring waktu, dan tidak pula menyebar ke organ lain seperti kanker payudara. Fibroadenoma hanya tetap berada dalam jaringan payudara.

Anda bisa merasakan tumor ketika Anda melakukan pemeriksaan payudara. Jika Anda merasa ada suatu benjolan seperti bola karet dengan bentuk yang teraba dengan jelas pada payudara Anda, Anda harus mendapatkan didiagnosis untuk fibroadenoma.

Seberapa umumkah fibroadenoma?
Fibroadenoma umum terjadi pada wanita muda, sering kali sering muncul pada gadis remaja dan wanita di bawah usia 30 tahun tetapi juga dapat terjadi pasien pada usia berapa pun. Kondisi ini dapat dikelola dengan mengurangi faktor risiko Anda. Silakan diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Apa saja tanda-tanda dan gejala fibroadenoma?
Ketika Anda menekan kulit Anda, Anda dapat merasa fibroadenoma seperti benjolan di payudara Anda. Tanda-tanda dan gejala fibroadenoma yang umum adalah benjolan payudara yang terasa padat atau benjolan yang biasanya berbentuk bulat dengan batas yang teraba dengan jelas jelas. Fibroadenoma biasanya tidak menimbulkan rasa sakit dan bisa bergerak ketika Anda menyentuhnya.

Fibroadenoma dapat memiliki ukuran yang berbeda dan bisa menjadi lebih besar atau bahkan menyusut sendiri. Namun, fibroadenoma biasanya berukuran kecil, hanya 1 atau 2 cm.

Kemungkinan ada tanda-­tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?
Anda harus segera menghubungi dokter Anda ketika Anda mendeteksi adanya benjolan payudara baru atau payudara Anda memiliki perubahan, atau jika Anda menyadari benjolan pada payudara Anda tampaknya tumbuh lebih besar atau mengalami perubahan dari sebelumnya.

Apa penyebab fibroadenoma?
Meskipun penyebab pasti dari fibroadenoma belum ditemukan, peneliti menganggap bahwa hormon memainkan peran dalam membentuk fibroadenoma. Fibroadenoma mungkin memiliki koneksi dengan hormon reproduksi, karena fibroadenoma cenderung terjadi lebih sering selama usia subur Anda. Selain itu, fibroadonema dapat menjadi lebih besar selama kehamilan atau penggunaan terapi hormon. Setelah menopause, seiring dengan penurunan kadar hormon, fibroadonema mungkin bahkan menyusut. Penyebab lainnya adalah penggunaan kontrasepsi oral sebelum usia 20, yang dapat menyebabkan perkembangan dan pertumbuhan fibroadenoma.

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk fibroadenoma?
Ada banyak faktor risiko untuk fibroadenoma, seperti:
  • Terapi estrogen atau terapi hormon lainnya
  • Kehamilan
  • Menyusui
  • Penggunaan pil KB
  • Obat & Pengobatan

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk fibroadenoma?
Jika dokter Anda mengonfirmasi bahwa benjolan payudara Anda adalah fibroadenoma, Anda mungkin tidak perlu operasi. Karena fibroadenoma terkait dengan kadar hormon, benjolan ini mungkin menyusut setelah penurunan hormon reproduksi Anda. Anda mungkin tidak memerlukan pengobatan apapun untuk menangani penyakit ini dalam beberapa kasus. Namun, jika Anda berpikir bahwa fibroadenoma Anda tidak dapat mengecil atau menghilang sendiri, atau jika bentuk payudara Anda mungkin berubah karena tumor, Anda dapat memilih untuk melakukan operasi.

Sebelum melakukan operasi, Anda perlu memonitor fibroadenoma dengan pemeriksaan tindak lanjut oleh dokter Anda untuk USG payudara. Hal ini akan membantu Anda untuk mengetahui setiap perubahan dalam penampilan atau ukuran benjolan. Jika fibroadenoma benar-benar mengkhawatirkan, Anda bisa mempertimbangkan untuk melakukan operasi untuk mengangkatnya.

Namun, jika salah satu tes Anda menunjukkan hasil tidak normal, maka operasi diperlukan. Pada awalnya, dokter bedah mengangkat jaringan payudara dan mengirimnya ke laboratorium untuk diperiksa adanya kanker. Jika hasil tes menunjukkan sel-sel non-kanker, dokter akan mengangkat tumor. Salah satu metode menghilangkan tumor fibroadenoma adalah dengan cryoablation. Dalam prosedur ini, dokter Anda menyisipkan perangkat tipis, seperti tongkat melalui kulit Anda hingga ke area fibroadenoma dan memberikan  gas untuk membekukan jaringan.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk fibroadenoma?
Untuk mendiagnosis fibroadenoma, dokter dapat meminta Anda untuk melakukan pemeriksaan fisik di mana payudara Anda dapat diperiksa secara manual. Anda mungkin harus melakukan USG payudara atau tes pencitraan mammogram tergantung pada situasi Anda. Jika Anda harus melakukan USG payudara, Anda akan berbaring di atas meja, kemudian perangkat genggam yang disebut transducer akan digerakan di atas kulit payudara untuk menghasilkan gambar di layar. Dalam tes mammogram, payudara Anda dirontgen dengan cara ditekan antara dua permukaan datar.

Untuk memeriksa apakah tumor tersebut adalah kanker atau tidak, dokter dapat merekomendasikan aspirasi jarum halus atau biopsi. Hal ini dilakukan dengan memasukkan jarum ke dalam payudara Anda dan mengambil potongan kecil dari tumor untuk dikirim ke laboratorium. Melalui pemeriksaan mikroskopis, dokter dapat mengetahui jenis fibroadenoma dan apakah itu adalah kanker.

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi fibroadenoma?
Berikut gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi fibroadenoma:
  • Anda harus menjalani pemeriksaan rutin dengan dokter Anda dan menjadwalkan mammogram secara teratur jika Anda memiliki fibroadenoma
  • Anda harus memeriksa payudara Anda secara teratur untuk memeriksa tanda-tanda pertumbuhan yang tidak biasa
  • Anda harus meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan olahraga teratur dan diet yang tepat

Sumber : https://hellosehat.com/penyakit/fibroadenoma/

Fibrilasi Ventrikular


Fibrilasi ventrikel adalah kelainan ritme jantung, di mana jantung akan berdenyut secara sangat cepat. Hal ini dipicu oleh adanya gangguan pada rangsangan (impuls) listrik di jantung, sehingga bilik jantung (ventrikel) bergetar secara tidak terkontrol. Akibatnya, jantung tidak mampu melakukan fungsinya untuk memompa darah ke seluruh tubuh, dan pada akhirnya pasukan darah dan oksigen di organ-organ vital tubuh akan terhenti. Kondisi ini merupakan kondisi medis yang harus segera ditangani karena penderitanya dapat kehilangan kesadaran hanya dalam hitungan detik saja.
Fibrilasi ventrikel merupakan jenis kelainan yang paling sering dijumpai pada kasus serangan jantung, dan juga merupakan penyebab paling umum dari kematian akibat henti jantung mendadak. Melakukan resusitasi jantung paru (cardiopulmonary resuscitation/CPR) atau pemberian alat kejut jantung yang bernama defibrilator adalah tindakan pertolongan medis pertama yang bisa digunakan untuk menangani kondisi ini.

Angka kejadian fibrilasi ventrikel akan turut meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah kasus serangan jantung iskemik. Dewasa berusia 45-75 tahun merupakan kelompok usia terbanyak yang mengalami kelainan ini.

Penyebab Fibrilasi Ventrikel
Denyutan jantung seseorang dipengaruhi oleh rangsangan (impuls) listrik. Gangguan apapun yang terjadi dalam proses penghantaran listrik ini akan menyebabkan irama jantung menjadi tidak teratur.

Pada sebagian kasus, rangsangan listrik terganggu akibat adanya serangan jantung atau adanya bekas luka pada otot jantung. Gangguan aliran listrik ini menyebabkan bilik jantung (ventrikel) bergerak dengan sangat cepat, atau yang disebut dengan takikardia ventrikel. Takikardia ventrikel yang tidak segera ditangani akan memicu kondisi yang lebih parah, yakni fibrilasi ventrikel.

Ketika fibrilasi ventrikel terjadi, kedua ruang jantung yang berada di bagian bawah menjadi tidak bisa memompa darah dengan baik sehingga tekanan darah menjadi turun dan tidak dapat dialirkan dengan baik ke seluruh tubuh. Seperti yang telah disebutkan di atas, kondisi ini kemudian turut memengaruhi tekanan darah penderitanya dan asupan darah dan oksigen bagi organ-organ tubuh yang vital.

Selain riwayat serangan jantung mendadak, beberapa faktor berikut ini juga dapat meningkatkan risiko seseorang terserang fibrilasi ventrikel, di antaranya:
  • Penyakit jantung bawaan
  • Pernah mengalami fibrilasi ventrikel sebelumya
  • Kelainan pada otot jantung
  • Penggunaan obat-obat terlarang, misalnya kokain dan metamfetamin
  • Kelainan pada elektrolit yang ada di dalam tubuh, misalnya magnesium dan potasium.
  • Penyakit ini paling sering dialami oleh orang dalam rentang usia 45-75 tahun.
  • Cedera yang menyebabkan kerusakan pada otot jantung, misalnya akibat sengatan listrik.

Gejala Fibrilasi Ventrikel
Kehilangan kesadaran merupakan gejala yang paling umum ditemui dari kondisi ini. Karena fibrilasi ventrikel seringkali didahului oleh takikardia ventrikel, maka gejala dari takikardia ventrikel juga perlu diperhatikan dan diwaspadai. Beberapa gejala takikardia ventrikel, antara lain:
  • Detak jantung yang sangat cepat
  • Sakit dada
  • Pusing
  • Mual
  • Napas yang pendek
  • Hilang kesadaran

Jika Anda menemui kondisi dengan gejala-gejala di atas, hubungi ambulans atau nomor darurat lain sesegera mungkin. Gejala di atas dapat berlangsung hingga satu jam atau kurang sebelum penderita akhirnya pingsan atau kehilangan kesadaran. Periksalah denyut nadi penderita dan segera lakukan resusitasi jantung paru atau CPR jika Anda tidak menemukan denyut nadi sambil menunggu tenaga medis tiba di lokasi. Alat defibrilator portabel kemudian bisa digunakan untuk memicu jantung berdetak kembali.

Diagnosis Fibrilasi Ventrikel
Fibrilasi ventrikel merupakan kondisi darurat medis yang akan terdeteksi melalui pemeriksaan denyut nadi atau alat monitor jantung. Denyut jantung penderita fibrilasi ventrikel tidak akan teraba, dan pada hasil monitor jantung akan tampak adanya gerakan listrik jantung yang sangat cepat, atau bahkan tidak bergerak sama sekali.

Tes tambahan kemudian akan dilakukan untuk mengetahui apa yang menyebabkan fibrilasi ventrikel, antara lain:
  • Tes darah – Untuk memeriksa kebocoran enzim jantung ke dalam darah yang disebabkan oleh kerusakan jantung akibat serangan jantung.
  • Elektrokardiogram (EKG) – Untuk merekam dan memeriksa impuls listrik jantung. Jantung yang rusak akan menunjukkan impuls listrik yang tidak normal yang menandakan adanya serangan jantung.
  • Ekokardiogram – Untuk mendapatkan gambaran jantung melalui gelombang suara.
  • Angiogram – Untuk mengetahui jika terdapat sumbatan pada pembuluh darah yang menuju jantung (koroner) dengan cara menyuntikkan zat pewarna khusus ke dalam kateter yang dipasang dari kaki hingga jantung. Perjalanan zat tersebut di dalam pembuluh darah nantinya akan terlihat melalui X-ray.
  • X-ray dada – Untuk mendapatkan gambaran jantung, ukuran, dan pembuluh-pembuluh darahnya.
  • CT atau MRI scan – Untuk memeriksa jika terdapat gangguan lain pada jantung melalui gambaran jantung yang lebih jelas lagi.

Pengobatan Fibrilasi Ventrikel
Perawatan fibrilasi ventrikel terbagi menjadi dua jenis, yaitu perawatan pada kondisi darurat dan perawatan yang dilakukan untuk mencegah serangan terulang kembali. Perawatan ini difokuskan untuk menjaga agar darah tetap mengalir ke seluruh tubuh dan terhindar dari kerusakan otak maupun organ tubuh lainnya, serta untuk mencegah terjadinya serangan fibrilasi ventrikel lain.

Perawatan fibrilasi ventrikel pada kondisi darurat terdiri dari dua macam perawatan, yaitu:
  • Pemberian resusitasi jantung paru atau CPR yang akan menirukan gerakan memompa jantung agar aliran darah di seluruh tubuh tetap terjaga. Bagi orang yang belum mendapat pelatihan CPR, Anda dapat memberi tekanan di dada (kompresi) sebanyak 100 kali per menit dengan menggunakan tangan. Lakukan ini hingga alat kejut jantung (defibrillator) tiba di lokasi kejadian.
  • Defibrilasi atau menggunakan alat kejut jantung (defibrillator) yang akan menghantarkan gelombang listrik ke dada dan jantung untuk mengembalikan detak jantung ke ritme yang beraturan.
  • Perawatan fibrilasi ventrikel yang ditujukan untuk mencegah serangan lanjutan mungkin direkomendasikan pada kasus fibrilasi ventrikel yang disebabkan oleh adanya jaringan parut akibat serangan jantung, atau perubahan struktur jantung. Dokter dapat memberikan resep obat-obatan atau menyarankan prosedur tertentu, yang akan dijabarkan di bawah ini.

Obat-obatan antiaritmia dan penghambat beta dapat diberikan untuk perawatan jangka panjang maupun pada kondisi darurat bagi penderita fibrilasi ventrikel maupun henti jantung.
Penanaman suatu alat untuk membantu mengembalikan ritme jantung ke kondisi yang dianggap normal mungkin akan direkomendasikan dokter setelah kondisi penderita telah stabil. Prosedur ini akan lebih efektif mencegah aritmia yang fatal dibanding pemberian obat-obatan. Alat yang bernama implantable cardioverter-defibrillator (ICD) ini akan memonitor ritme jantung penderita dan mengirimkan daya listrik yang rendah maupun tinggi ketika ritme jantung mulai berdetak tak normal.
Angioplasti koroner untuk membuka pembuluh darah yang tersumbat dan menjaganya tetap terbuka dengan menempatkan suatu tabung kateter dengan balon di ujungnya agar darah dapat mengalir dengan lancar ke jantung. Prosedur ini dilakukan pada kasus fibrilasi ventrikel yang disebabkan oleh serangan jantung sekaligus untuk mengurangi risiko terjadinya serangan lanjutan.
Operasi bypass jantung yang bertujuan untuk memulihkan aliran darah menuju jantung dengan cara membuat saluran pembuluh darah Dengan lancarnya suplai darah ke jantung, maka risiko untuk mengalami fibrilasi ventrikel berikutnya juga akan berkurang.
Beberapa komplikasi berikut mungkin terjadi pada penderita fibrilasi ventrikel, yaitu:
  • Cedera iskemik pada sistem saraf pusat
  • Kematian
  • Kulit terbakar akibat prosedur defibrilasi
  • Cedera akibat prosedur CPR
  • Pencegahan Fibrilasi Ventrikel

Memulai gaya hidup sehat dapat membantu Anda menjaga kondisi jantung dan terhindar dari fibrilasi ventrikel maupun serangan jantung yang dapat berujung pada kematian. Mulailah melakukan beberapa perubahan pada pola hidup Anda dengan langkah-langkah berikut:
  • Memulai pola makan yang sehat dan berimbang
  • Menjaga berat badan agar tetap dalam batas yang normal, sesuai dengan indeks masa tubuh (IMT)
  • Berhenti merokok
  • Tetap aktif bergerak, misalnya dengan berjalan kaki selama 30 menit setiap harinya.

Sumber : https://www.alodokter.com/fibrilasi-ventrikel

Fibrilasi Atrium


Fibrilasi atrium adalah kondisi ketika serambi (atrium) jantung berdenyut dengan tidak beraturan dan cepat. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya penggumpalan darah, stroke, dan gagal jantung.

Dalam keadaan normal, jantung berdetak dengan irama beraturan agar dapat mengalirkan darah dari serambi (atrium) jantung ke bilik (ventrikel) jantung, untuk selanjutnya dialirkan ke paru-paru atau ke seluruh tubuh. Namun pada fibrilasi atrium, hantaran listrik pada jantung dan irama denyut jantung mengalami gangguan, sehingga atrium gagal mengalirkan darah ke ventrikel.
Fibrilasi atrium dapat muncul karena penyakit lain atau bisa juga terjadi orang yang sehat tanpa gangguan medis tertentu. Rentang waktu terjadinya juga bervariasi. Ada yang hanya sesekali muncul dan berlangsung dalam hitungan menit atau jam, lalu setelah itu dapat pulih dengan sendirinya, yang disebut sebagai fibrilasi atrium paroksismal (occasional). Ada juga yang memakan waktu lebih lama, yaitu lebih dari satu minggu (persistent), lebih dari satu tahun (long-standing pesistent), bahkan kronis atau menetap (permanent). Untuk ketiga jenis yang disebutkan terakhir tersebut, diperlukan obat atau metode penanganan medis lainnya guna menormalkan sistem penghantaran listrik jantung.

Meski tidak mengancam nyawa, fibrilasi atrium membutuhkan penanganan yang yang serius guna menghindari komplikasi yang lebih parah. Penanganan yang dilakukan tergantung dari jenis dan tingkat keparahan gejala yang dirasakan oleh penderita.

Gejala Fibrilasi Atrium
Gejala umum yang dirasakan penderita fibrilasi atrium adalah jantung berdebar atau detak jantung terasa lebih cepat.serta tidak beraturan. Sedangkan gejala lainnya meliputi:
  • Kelelahan, terutama saat berolahraga.
  • Pusing.
  • Napas pendek.
  • Lemah.
  • Nyeri dada.
  • Penyebab Fribrilasi Atrium

Fibrilasi atrium terjadi ketika terdapat gangguan pada penghantaran sinyal listrik jantung, di mana terlalu banyak impuls listrik yang melewati nodus atrioventrikular (AV node) yang berfungsi sebagai penghubung listrik antara atrium dan ventrikel. Akibatnya, denyut jantung menjadi lebih cepat (sekitar 100-175 denyut per menit) dari denyut jantung normal (60-100 denyut per menit). Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur jantung.

Beberapa kondisi medis yang diduga menjadi penyebab fibrilasi atrium adalah:
  • Infeksi virus.
  • Kelainan jantung bawaan.
  • Metabolisme yang tidak seimbang, termasuk kelenjar tiroid yang terlalu aktif.
  • Penyakit paru-paru, tekanan darah tinggi, dan serangan jantung koroner.
  • Paparan obat, alkohol, atau tembakau.
  • Gangguan pernapasan saat tidur (sleep apnea).
  • Pernah menjalani operasi jantung.
  • Mengalami sick sinus syndrome, di mana pencetus impuls listrik jantung tidak bekerja dengan normal.
  • Stres akibat dari suatu penyakit atau operasi.

Selain kondisi medis di atas, beberapa faktor lain yang juga dapat membuat seseorang rentan mengalami fibrilasi atrium adalah:
  • Adanya riwayat penyakit fibrilasi atrium dalam keluarga.
  • Obesitas.
  • Kebiasaan mengonsumsi alkohol.
  • Usia lanjut.

Diagnosis Fibrilasi Atrium
Setelah melakukan pemeriksaan fisik dan meninjau riwayat penyakit, dokter akan menetapkan diagnosis melalui beberapa pemeriksaan, meliputi pemeriksaan darah, pemindaian dada, elektrokardiogram (EKG) dengan treadmill atau dengan holter monitor yang mencatat kegiatan jantung selama 24 jam, serta pemantauan kerja jantung selama beberapa minggu atau bulan dengan alat EKG portabel. Selain itu, pemeriksaan lainnya yang mungkin direkomendasikan untuk menunjang diagnosis adalah echocardiogram, yaitu pemeriksaan noninvasif dengan gelombang suara untuk merekam gambaran jantung.

Pengobatan Fibrilasi Atrium
Pengobatan fibrilasi atrium akan didasarkan pada kondisi medis yang dialami penderita, termasuk jangka waktu berlangsungnya gejala. Tujuan pengobatan adalah untuk mengembalikan dan mempertahankan irama jantung, serta mencegah penyumbatan darah. Cara awal yang bisa dilakukan adalah melalui pemberian obat-obatan, seperti:
  • Obat antikoagulan, untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah dan mengatasi penyumbatan darah yang sudah terjadi. Contoh obat yang biasanya diberikan adalah aspirin dan warfarin. Kendati demikian, obat antikoagulan memiliki efek samping berupa risiko perdarahan.
  • Obat pengendali denyut jantung, untuk mengendalikan atau mengembalikan denyut jantung ke posisi normal. Obat yang dapat diberikan adalah penghambat beta untuk membuat denyut jantung lebih lambat (contohnya atenolol, biropolol, atau metoprolol), obat penghambat kanal kalsium untuk mengurangi kontraksi sel otot (contohnya diltiazem dan verapamil), serta digoxin untuk mengurangi percepatan denyut jantung dari atrium ke ventrikel.
  • Antiaritmia untuk mencegah terjadinya fibrilasi atrium di masa mendatang. Contoh obat-obatan ini adalah defetilide, flecainide, propafenone, amiodarone, atau sotalol. Efek samping yang mungkin timbul adalah pusing, mual, atau kelelahan.

Di samping pemberian obat, terdapat juga beberapa pilihan tindakan noninvasif (tanpa pembedahan). Tindakan tersebut dapat berupa:
  • Electrical cardioversion. Dalam prosedur ini, diberikan kejutan listrik pada daerah dada. Kejutan listrik tersebut akan menghentikan aktivitas listik jantung untuk sesaat dan selanjutnya dapat mengemballikan denyut jantung menjadi normal. Prosedur ini didahului dengan pembiusan.
  • Ablasi kateter. Prosedur ini adalah untuk menonaktifkan titik-titik pencetus listrik abnormal pada jantung, dengan memasukkan suatu alat ablasi dengan kateter lewat pembuluh darah di daerah lipat paha ke arah jantung.
  • Ablasi nodus atriventrikular. Prosedur ini dilakukan untuk menonaktifkan nodus atrioventrukular (AV node), sehingga sinyal listrik abnormal dari atrium tidak diteruskan ke ventrikel. Dengan tidak berfungsinya AV node, ventrikel jantung tidak mendapatkan impuls lisrik dan berhenti berdenyut. Untuk itu, dipasangkan sebuah alat pacu jantung untuk memberikan impuls listrik yang normal pada ventrikel.

Jika tindakan di atas belum dapat mengatasi masalah fibrilasi atrium, maka metode pengobatan selanjutnya yang mungkin akan direkomendasikan adalah prosedur operasi atau pembedahan, seperti:
  • Pemasangan alat pacu jantung. Alat pacu jantung akan dipasang pada tulang selangka di bawah kulit. Fungsinya adalah untuk mengirimkan sinyal listrik yang dapat mempertahankan denyut jantung dalam keadaan normal.
  • Maze procedure. Dalam prosedur bedah jantung terbuka ini, dokter membuat sayatan-sayatan kecil pada bagian atas jantung. Sayatan tersebut akan membentuk jaringan parut yang dapat menghambat penghantaran impuls listrik abnormal penyebab fibrilasi atrium. Hasilnya, detak jantung yang terlalu cepat dapat kembali normal.

Pencegahan Fibrilasi Atrium
Menurunkan risiko terjadinya fibrilasi atrium dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat, antara lain:
  • Menghentikan kebiasaan merokok.
  • Mengonsumsi makanan yang sehat untuk jantung, serta membatasi asupan garam, lemak, dan kolesterol.
  • Membatasi konsumsi alkohol dan kafein.
  • Menjaga berat badan yang normal.
  • Mengendalikan tekanan darah dan kadar kolesterol dalam darah.

Sumber : https://www.alodokter.com/fibrilasi-atrium

Feokromositoma


Kelenjar adrenal merupakan organ berbentuk seperti segitiga yang terletak di atas ginjal. Normalnya, manusia memiliki sepasang kelenjar adrenal. Kelenjar ini terdiri dari dua bagian, yaitu korteks (bagian luar) dan medula (bagian dalam). Kelenjar adrenal menghasilkan hormon katekolamin. Hormon katekolamin terdiri dari tiga jenis hormon, yaitu hormon norepinefrin, epinefrin (adrenalin), dan dopamin. Fungsi hormon-hormon ini adalah mengatur detak jantung, tekanan darah, kadar gula darah, dan reaksi terhadap stres.
Feokromositoma adalah tumor yang berasal dari sel kromafin. Sel ini terletak di kelenjar adrenal dan berfungsi untuk menghasilkan hormon katekolamin. Pada feokromositoma, sel kromafin tersebut menghasilkan hormon secara berlebihan sehingga fungsi metabolisme tubuh terganggu. Biasanya, feokromositoma hanya terjadi pada salah satu kelenjar adrenal. Dalam satu kelenjar tersebut, dapat ditemukan lebih dari satu massa tumor.

Sebagian besar feokromositoma bersifat jinak alias tidak menyebar ke organ lain. Namun, tumor ini dapat menyebabkan berbagai gejala yang membutuhkan pengobatan. Hanya sekitar 10% feokromositoma yang bersifat ganas dan dapat menyebar ke organ lain di luar kelenjar adrenal.
Feokromositoma termasuk jenis tumor yang sangat jarang terjadi. Di Amerika Serikat, hanya ditemukan 2 kasus dari 1.000.000 penduduk setiap tahun. Kasus feokromositoma ditemukan lebih banyak 0,1–1% pada orang yang menderita tekanan darah tinggi (hipertensi). Tumor ini dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Sementara itu, feokromositoma lebih sering terjadi pada umur 30–50 tahun. Sekitar 10% kasus terjadi pada anak-anak. Sayangnya, di Indonesia belum terdapat data mengenai jumlah kasus feokromositoma. Banyak penderita feokromositoma yang tidak terdiagnosis selama masa hidupnya.

Faktor Risiko
Satu-satunya faktor risiko feokromositoma yang diketahui adalah penyakit akibat genetik. Faktor ini ditemukan kira-kira pada 25% kasus. Penyakit genetik yang dimaksud adalah:
  • Sindrom von Hippel-Lindau(vHL)
  • Sindrom Multiple Endocrine Neoplasia tipe 2A and 2B (MEN2A and 2B)
  • Neurofibromatosis tipe 1 (NF1)
  • Sindrom Paraganglioma Familial
  • Sindrom Carney Stratakis

Derajat keparahan
Tidak seperti kanker lainnya, tidak ada sistem klasifikasi standar untuk feokromositoma. Feokromositoma dikelompokkan menjadi:
  • Terlokalisir: terbatas pada satu atau kedua kelenjar adrenal
  • Regional: menyebar ke kelenjar getah bening terdekat atau organ lain yang dekat dengan tumor asal
  • Metastasis: menyebar ke organ yang jauh dari tumor asal, seperti hati, paru-paru, atau tulang.

Gejala
Produksi katekolamin berlebihan pada penderita feokromositoma dapat menimbulkan berbagai gejala seperti berikut:
  • tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • sakit kepala
  • keringat berlebihan tanpa penyebab yang diketahui
  • jantung berdebar-debar
  • nyeri dada
  • gelisah.

Selain itu, dapat ditemukan gejala lain yang lebih jarang, yaitu :
  • nyeri dada atau perut
  • mual dan muntah
  • diare
  • susah buang air besar (konstipasi)
  • rasa lemah atau lemas
  • pucat
  • berat badan menurun
  • hipotensi ortostatik (rasa pusing atau seperti mau pingsan akibat penurunan tekanan darah secara tiba-tiba karena perubahan posisi dari duduk ke berdiri yang mendadak)
  • diabetes mellitus (akibat kegagalan metabolisme karbohidrat)

Terkadang, tidak seluruh gejala yang disebutkan di atas akan muncul. Gejala yang paling sering adalah hipertensi yang sulit dikontrol dengan obat-obatan dan perubahan gaya hidup. Tingginya tekanan darah dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, seperti denyut jantung tidak teratur, serangan jantung, stroke, ataupun kematian. Oleh karena itu, walaupun sebenarnya feokromositoma biasanya bersifat jinak, gejala dari penyakit inilah yang sebaiknya diwaspadai.

Gejala-gejala yang telah disebutkan di atas lebih mudah terlihat pada kondisi berikut:
  • aktivitas fisik yang berat
  • trauma fisik atau mengalami stres emosional
  • operasi, termasuk prosedur saat mengangkat tumor
  • makan makanan yang banyak mengandung tiramin (seperti anggur merah, coklat, dan keju)
  • saat dibius
  • saat persalinan

Penegakan diagnosis
Anamnesis (tanya jawab dengan dokter) dan pemeriksaan fisik sederhana:
Pada tahap anamnesis dan pemeriksaan fisik sederhana, dokter akan mencari gejala-gejala penyakit yang telah disebutkan  di atas, seperti tekanan darah tinggi, jantung berdebar, dan lain-lain.

Pemeriksaan urine tampung 24 jam:
Pemeriksaan dilakukan dengan cara menampung urine selama 24 jam. Kemudian, diukur jumlah hormon katekolamin (epinefrin, norepinefrin, dan dopamin) serta hasil metabolisme katekolamin (metanefrin dan normetanefrin). Jika dalam pemeriksaan ditemukan peningkatan kadar katekolamin atau metabolismenya, patut dicurigai adanya feokromositoma.

Pemeriksaan metanefrin:
Pengukuran metanefrin menggunakan sampel darah. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling baik pada pasien dengan risiko berikut:
  • pasien memiliki tumor adrenal
  • keluarga pasien merupakan penderita feokromositoma
  • pasien memiliki penyakit genetik yang telah disebutkan di atas. 

Namun, hasil yang positif tidak selalu menunjukkan diagnosis feokromositoma. Kondisi-kondisi di bawah ini dapat memberikan hasil yang positif:
  • konsumsi obat-obatan tertentu, seperti antidepresan trisiklik
  • stres emosional
  • makanan, seperti kopi dan pisang.

Oleh karena itu, setelah melakukan pemeriksaan ini, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan urine tampung 24 jam untuk mengonfirmasi diagnosis.

Pemeriksaan radiologi
CT-scan: pada kasus feokromositoma, biasanya akan dilakukan pemeriksaan CT-scan pada bagian perut dan panggul. Pemeriksaan ini dapat menampilkan gambar potongan-potongan dari kelenjar adrenal sehingga memperlihatkan gambaran yang lebih rinci daripada MRI

Magnetic resonance imaging (MRI): pemeriksaan ini memanfaatkan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk melihat gambaran organ dalam tubuh dengan lebih jelas.

Metaiodobenzylguanidine scan (MIBG scan): prosedur ini menggunakan metaiodobenzylguanidine (MIBG) yang merupakan suatu zat radioaktif. Zat ini disuntikkan ke pembuluh darah vena, kemudian diserap oleh jaringan Feokromositoma. Lalu, dilakukan scan untuk mendeteksi keberadaan MIBG dalam tubuh. Tentunya, MIBG akan terkumpul pada jaringan feokromositoma sehingga lokasi tumor dapat terdeteksi saat dilakukan scan. Pemeriksaan ini memakan waktu 1–3 hari.

Octreotide scan: pemeriksaan ini menggunakan prinsip yang mirip dengan MIBG scan. Bedanya, zat yang dimasukkan adalah octreotide, sejenis hormon yang akan menempel pada tumor. Ocreotide juga dimasukkan melalui pembuluh darah vena, kemudian dideteksi oleh kamera khusus sehingga lokasi tumor dapat diketahui.

Fluorodeoxyglucose-positron emission tomography scan (FDG-PET scan): prosedur ini bertujuan untuk mencari sel tumor yang ganas. FDG-PET scan memanfaatkan radioaktif glukosa (gula) yang dimasukkan melalui pembuluh darah vena. Lalu, PET scan menunjukkan gambaran lokasi glukosa tersebut digunakan. Sel tumor ganas memiliki metabolisme yang lebih tinggi dibandingkan sel tumor jinak. Akibatnya, jumlah glukosa yang digunakan sel tumor ganas lebih banyak sehingga gambaran pada PET scan menunjukkan warna lebih cerah.

Tata laksana
  • Pembedahan

Setelah feokromositoma terdiagnosis, pilihan pengobatan yang utama adalah pembedahan, baik untuk tumor jinak ataupun ganas. Pada proses pembedahan, dapat dilakukan pengangkatan tumor dan seluruh atau sebagian dari kelenjar adrenal. Jika kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya, organ dan jaringan yang terkena harus diangkat juga. Pembedahan biasanya mampu mengatasi gejala yang dialami pasien, termasuk hipertensi. Pemberian obat-obatan diperlukan untuk mengontrol tekanan darah sebelum pembedahan. Tujuannya adalah untuk mencegah komplikasi selama operasi.

Beberapa minggu setelah operasi, kadar katekolamin dalam darah dan urine diperiksa. Jika hasilnya normal, operasi dianggap berhasil. Pada pembedahan yang mengangkat kedua kelenjar adrenal, diperlukan terapi pengganti hormon untuk menggantikan fungsi kelenjar adrenal sebagai penghasil hormon.
  • Terapi Radiasi

Terapi radiasi adalah terapi yang menggunakan energi dari sinar-x (x-ray) untuk membunuh sel kanker. Ada dua jenis terapi radiasi, yaitu:
  • Terapi radiasi eksternal yang menggunakan mesin di luar tubuh untuk memancarkan radiasi pada kanker.
  • Terapi radiasi internal memanfaatkan zat radioaktif yang dimasukkan ke dalam tubuh untuk membunuh sel kanker dari dalam tubuh.
  • Terapi radiasi biasanya diberikan pada kasus feokromositoma ganas yang telah menyebar ke tulang. Tujuannya adalah untuk mengurangi gejala, seperti rasa nyeri. Dosis dan lama pemberian terapi radiasi berbeda-beda, tergantung lokasi tumor dan berbagai faktor lainnya. Biasanya, terapi dilakukan selama dua minggu.

MIBG dapat digunakan sebagai untuk menegakkan diagnosis ataupun terapi. Terapi ini biasanya digunakan untuk feokromositoma ganas. Terapi MIBG memiliki efek samping, yaitu menekan produksi sel darah dari sumsum tulang. Akibatnya, diperlukan pemeriksaan hitung darah lengkap. Setelah melakukan terapi MIBG, diperlukan pemeriksaan MIBG scan ulang. Jika pada pemeriksaan ulang terdapat penurunan penyerapan MIBG, terapi dikatakan berhasil.

  • Kemoterapi

Kemoterapi berbentuk menggunakan obat-obatan yang ditelan atau disuntikkan. Pada kasus feokromositoma, kemoterapi tidak digunakan sebagai terapi utama. Terapi ini diberikan untuk feokromositoma ganas yang tidak membaik dengan terapi MIBG. Obat kemoterapi yang biasanya digunakan adalah siklofosfamid, vinkristin, dan dacarbazine.

  • Terapi ablasi

Ablasi adalah terapi yang merusak jaringan atau fungsi jaringan tersebut. Jenis-jenis terapi ablasi yang dapat dilakukan adalah:

Radiofrekuensi ablasi: prosedur ini menggunakan gelombang radio untuk memanaskan dan menghancurkan sel tumor.
Krioablasi: prosedur ini menyebabkan jaringan menjadi membeku, kemudian menghancurkan sel-sel kanker. Biasanya, digunakan cairan nitrogen atau karbondioksida untuk membekukan jaringan.

  • Terapi embolisasi

Pada terapi embolisasi, dilakukan pemblokiran aliran darah ke kelenjar adrenal. Hal ini menyebabkan sel kanker tidak mendapatkan asupan nutrisi dan oksigen. Dengan demikian, sel kanker tidak bisa berkembang dan pada akhirnya mati.

  • Terapi target

Terapi target menyerang beberapa komponen yang mendukung pertumbuhan sel kanker secara spesifik, tanpa merusak sel normal. Terapi target digunakan untuk feokromositoma rekuren (berulang) dan metastasis (menyebar). Contoh terapi target yang digunakan untuk kasus feokromositoma adalah sunitinib.

Selain pengobatan tumor yang telah disebutkan di atas, penderita feokromositoma juga mendapatkan obat-obatan lain untuk mengurangi gejala tumor. Obat-obatan yang dimaksud adalah :
  • Obat untuk mengontrol tekanan darah.
  • Obat yang menjaga denyut jantung dalam batas normal.

Jika akan dilakukan operasi, obat-obatan ini diberikan 1–3 minggu sebelumnya.

  • Konseling genetik juga dapat dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya mutasi genetik. Pasien yang perlu melakukan konseling genetik adalah:
  • Memiliki keluarga yang mengalami feokromositoma
  • Tumor pada kedua kelenjar adrenal
  • Lebih dari satu tumor pada satu kelenjar adrenal
  • Terdiagnosis feokromositoma sebelum usia 40 tahun
  • Memiliki gejala peningkatan katekolamin

Bila ditemukan adanya perubahan genetik, anggota keluarga lainnya juga dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan genetik.

Pencegahan
Tidak ada langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah feokromositoma karena faktor risiko yang diketahui adalah genetik.

Prognosis
Prognosis feokromositoma bergantung pada :
  • jenis tumor, jinak atau ganas
  • ada tidaknya penyebaran tumor ke area tubuh lainnya
  • tumor merupakan kasus pertama kali atau rekuren (berulang)
  • ada tidaknya gejala akibat katekolamin yang berlebihan

Tidak ada data yang jelas mengenai angka kelangsungan hidup pasien dengan feokromositoma. Walaupun pasien dengan feokromositoma jinak memiliki angka kelangsungan hidup yang sama seperti orang normal, 6,5–16,5% pasien mengalami kekambuhan. Kekambuhan biasanya terjadi 5–15 tahun setelah operasi. Sekitar 50% kasus feokromositoma yang kambuh akan mengalami penyebaran ke organ tubuh yang lain dan peluang bertahan hidup dalam jangka waktu 5 tahun adalah 40–45%.

Feokromositoma pada kehamilan
Kira-kira ada 1 kasus dari 50.000 ibu hamil. Feokromositoma dapat menyebabkan penyakit serius terhadap ibu dan janin. Berikut adalah tanda-tanda feokromositoma pada kehamilan adalah:
  • peningkatan tekanan darah selama tiga bulan awal kehamilan
  • peningkatan tekanan darah tinggi secara tiba-tiba
  • tekanan darah tinggi yang sulit diturunkan dengan obat-obatan.

Ibu yang berisiko tinggi mengalami feokromositoma harus menjalani pemeriksaan sebelum persalinan. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan kadar katekolamin darah dan urine. Untuk menentukan letak tumor, digunakan MRI karena tidak menggunakan radiasi yang berbahaya bagi janin.

Sumber : https://kankere.com/article/content/feokromositoma-50
Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI


Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI