Halaman

Fibroadenoma


Fibroadenoma adalah tumor jinak yang muncul pada payudara Anda. Tidak semua benjolan yang muncul pada payudara Anda merupakan fibroadenoma. Orang sering keliru  antara fibroadenoma dengan tumor kanker payudara. Perbedaan antara kedua jenis ini adalah bahwa fibroadenoma tidak menjadi lebih besar seiring waktu, dan tidak pula menyebar ke organ lain seperti kanker payudara. Fibroadenoma hanya tetap berada dalam jaringan payudara.

Anda bisa merasakan tumor ketika Anda melakukan pemeriksaan payudara. Jika Anda merasa ada suatu benjolan seperti bola karet dengan bentuk yang teraba dengan jelas pada payudara Anda, Anda harus mendapatkan didiagnosis untuk fibroadenoma.

Seberapa umumkah fibroadenoma?
Fibroadenoma umum terjadi pada wanita muda, sering kali sering muncul pada gadis remaja dan wanita di bawah usia 30 tahun tetapi juga dapat terjadi pasien pada usia berapa pun. Kondisi ini dapat dikelola dengan mengurangi faktor risiko Anda. Silakan diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Apa saja tanda-tanda dan gejala fibroadenoma?
Ketika Anda menekan kulit Anda, Anda dapat merasa fibroadenoma seperti benjolan di payudara Anda. Tanda-tanda dan gejala fibroadenoma yang umum adalah benjolan payudara yang terasa padat atau benjolan yang biasanya berbentuk bulat dengan batas yang teraba dengan jelas jelas. Fibroadenoma biasanya tidak menimbulkan rasa sakit dan bisa bergerak ketika Anda menyentuhnya.

Fibroadenoma dapat memiliki ukuran yang berbeda dan bisa menjadi lebih besar atau bahkan menyusut sendiri. Namun, fibroadenoma biasanya berukuran kecil, hanya 1 atau 2 cm.

Kemungkinan ada tanda-­tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?
Anda harus segera menghubungi dokter Anda ketika Anda mendeteksi adanya benjolan payudara baru atau payudara Anda memiliki perubahan, atau jika Anda menyadari benjolan pada payudara Anda tampaknya tumbuh lebih besar atau mengalami perubahan dari sebelumnya.

Apa penyebab fibroadenoma?
Meskipun penyebab pasti dari fibroadenoma belum ditemukan, peneliti menganggap bahwa hormon memainkan peran dalam membentuk fibroadenoma. Fibroadenoma mungkin memiliki koneksi dengan hormon reproduksi, karena fibroadenoma cenderung terjadi lebih sering selama usia subur Anda. Selain itu, fibroadonema dapat menjadi lebih besar selama kehamilan atau penggunaan terapi hormon. Setelah menopause, seiring dengan penurunan kadar hormon, fibroadonema mungkin bahkan menyusut. Penyebab lainnya adalah penggunaan kontrasepsi oral sebelum usia 20, yang dapat menyebabkan perkembangan dan pertumbuhan fibroadenoma.

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk fibroadenoma?
Ada banyak faktor risiko untuk fibroadenoma, seperti:
  • Terapi estrogen atau terapi hormon lainnya
  • Kehamilan
  • Menyusui
  • Penggunaan pil KB
  • Obat & Pengobatan

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk fibroadenoma?
Jika dokter Anda mengonfirmasi bahwa benjolan payudara Anda adalah fibroadenoma, Anda mungkin tidak perlu operasi. Karena fibroadenoma terkait dengan kadar hormon, benjolan ini mungkin menyusut setelah penurunan hormon reproduksi Anda. Anda mungkin tidak memerlukan pengobatan apapun untuk menangani penyakit ini dalam beberapa kasus. Namun, jika Anda berpikir bahwa fibroadenoma Anda tidak dapat mengecil atau menghilang sendiri, atau jika bentuk payudara Anda mungkin berubah karena tumor, Anda dapat memilih untuk melakukan operasi.

Sebelum melakukan operasi, Anda perlu memonitor fibroadenoma dengan pemeriksaan tindak lanjut oleh dokter Anda untuk USG payudara. Hal ini akan membantu Anda untuk mengetahui setiap perubahan dalam penampilan atau ukuran benjolan. Jika fibroadenoma benar-benar mengkhawatirkan, Anda bisa mempertimbangkan untuk melakukan operasi untuk mengangkatnya.

Namun, jika salah satu tes Anda menunjukkan hasil tidak normal, maka operasi diperlukan. Pada awalnya, dokter bedah mengangkat jaringan payudara dan mengirimnya ke laboratorium untuk diperiksa adanya kanker. Jika hasil tes menunjukkan sel-sel non-kanker, dokter akan mengangkat tumor. Salah satu metode menghilangkan tumor fibroadenoma adalah dengan cryoablation. Dalam prosedur ini, dokter Anda menyisipkan perangkat tipis, seperti tongkat melalui kulit Anda hingga ke area fibroadenoma dan memberikan  gas untuk membekukan jaringan.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk fibroadenoma?
Untuk mendiagnosis fibroadenoma, dokter dapat meminta Anda untuk melakukan pemeriksaan fisik di mana payudara Anda dapat diperiksa secara manual. Anda mungkin harus melakukan USG payudara atau tes pencitraan mammogram tergantung pada situasi Anda. Jika Anda harus melakukan USG payudara, Anda akan berbaring di atas meja, kemudian perangkat genggam yang disebut transducer akan digerakan di atas kulit payudara untuk menghasilkan gambar di layar. Dalam tes mammogram, payudara Anda dirontgen dengan cara ditekan antara dua permukaan datar.

Untuk memeriksa apakah tumor tersebut adalah kanker atau tidak, dokter dapat merekomendasikan aspirasi jarum halus atau biopsi. Hal ini dilakukan dengan memasukkan jarum ke dalam payudara Anda dan mengambil potongan kecil dari tumor untuk dikirim ke laboratorium. Melalui pemeriksaan mikroskopis, dokter dapat mengetahui jenis fibroadenoma dan apakah itu adalah kanker.

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi fibroadenoma?
Berikut gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi fibroadenoma:
  • Anda harus menjalani pemeriksaan rutin dengan dokter Anda dan menjadwalkan mammogram secara teratur jika Anda memiliki fibroadenoma
  • Anda harus memeriksa payudara Anda secara teratur untuk memeriksa tanda-tanda pertumbuhan yang tidak biasa
  • Anda harus meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan olahraga teratur dan diet yang tepat

Sumber : https://hellosehat.com/penyakit/fibroadenoma/

Fibrilasi Ventrikular


Fibrilasi ventrikel adalah kelainan ritme jantung, di mana jantung akan berdenyut secara sangat cepat. Hal ini dipicu oleh adanya gangguan pada rangsangan (impuls) listrik di jantung, sehingga bilik jantung (ventrikel) bergetar secara tidak terkontrol. Akibatnya, jantung tidak mampu melakukan fungsinya untuk memompa darah ke seluruh tubuh, dan pada akhirnya pasukan darah dan oksigen di organ-organ vital tubuh akan terhenti. Kondisi ini merupakan kondisi medis yang harus segera ditangani karena penderitanya dapat kehilangan kesadaran hanya dalam hitungan detik saja.
Fibrilasi ventrikel merupakan jenis kelainan yang paling sering dijumpai pada kasus serangan jantung, dan juga merupakan penyebab paling umum dari kematian akibat henti jantung mendadak. Melakukan resusitasi jantung paru (cardiopulmonary resuscitation/CPR) atau pemberian alat kejut jantung yang bernama defibrilator adalah tindakan pertolongan medis pertama yang bisa digunakan untuk menangani kondisi ini.

Angka kejadian fibrilasi ventrikel akan turut meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah kasus serangan jantung iskemik. Dewasa berusia 45-75 tahun merupakan kelompok usia terbanyak yang mengalami kelainan ini.

Penyebab Fibrilasi Ventrikel
Denyutan jantung seseorang dipengaruhi oleh rangsangan (impuls) listrik. Gangguan apapun yang terjadi dalam proses penghantaran listrik ini akan menyebabkan irama jantung menjadi tidak teratur.

Pada sebagian kasus, rangsangan listrik terganggu akibat adanya serangan jantung atau adanya bekas luka pada otot jantung. Gangguan aliran listrik ini menyebabkan bilik jantung (ventrikel) bergerak dengan sangat cepat, atau yang disebut dengan takikardia ventrikel. Takikardia ventrikel yang tidak segera ditangani akan memicu kondisi yang lebih parah, yakni fibrilasi ventrikel.

Ketika fibrilasi ventrikel terjadi, kedua ruang jantung yang berada di bagian bawah menjadi tidak bisa memompa darah dengan baik sehingga tekanan darah menjadi turun dan tidak dapat dialirkan dengan baik ke seluruh tubuh. Seperti yang telah disebutkan di atas, kondisi ini kemudian turut memengaruhi tekanan darah penderitanya dan asupan darah dan oksigen bagi organ-organ tubuh yang vital.

Selain riwayat serangan jantung mendadak, beberapa faktor berikut ini juga dapat meningkatkan risiko seseorang terserang fibrilasi ventrikel, di antaranya:
  • Penyakit jantung bawaan
  • Pernah mengalami fibrilasi ventrikel sebelumya
  • Kelainan pada otot jantung
  • Penggunaan obat-obat terlarang, misalnya kokain dan metamfetamin
  • Kelainan pada elektrolit yang ada di dalam tubuh, misalnya magnesium dan potasium.
  • Penyakit ini paling sering dialami oleh orang dalam rentang usia 45-75 tahun.
  • Cedera yang menyebabkan kerusakan pada otot jantung, misalnya akibat sengatan listrik.

Gejala Fibrilasi Ventrikel
Kehilangan kesadaran merupakan gejala yang paling umum ditemui dari kondisi ini. Karena fibrilasi ventrikel seringkali didahului oleh takikardia ventrikel, maka gejala dari takikardia ventrikel juga perlu diperhatikan dan diwaspadai. Beberapa gejala takikardia ventrikel, antara lain:
  • Detak jantung yang sangat cepat
  • Sakit dada
  • Pusing
  • Mual
  • Napas yang pendek
  • Hilang kesadaran

Jika Anda menemui kondisi dengan gejala-gejala di atas, hubungi ambulans atau nomor darurat lain sesegera mungkin. Gejala di atas dapat berlangsung hingga satu jam atau kurang sebelum penderita akhirnya pingsan atau kehilangan kesadaran. Periksalah denyut nadi penderita dan segera lakukan resusitasi jantung paru atau CPR jika Anda tidak menemukan denyut nadi sambil menunggu tenaga medis tiba di lokasi. Alat defibrilator portabel kemudian bisa digunakan untuk memicu jantung berdetak kembali.

Diagnosis Fibrilasi Ventrikel
Fibrilasi ventrikel merupakan kondisi darurat medis yang akan terdeteksi melalui pemeriksaan denyut nadi atau alat monitor jantung. Denyut jantung penderita fibrilasi ventrikel tidak akan teraba, dan pada hasil monitor jantung akan tampak adanya gerakan listrik jantung yang sangat cepat, atau bahkan tidak bergerak sama sekali.

Tes tambahan kemudian akan dilakukan untuk mengetahui apa yang menyebabkan fibrilasi ventrikel, antara lain:
  • Tes darah – Untuk memeriksa kebocoran enzim jantung ke dalam darah yang disebabkan oleh kerusakan jantung akibat serangan jantung.
  • Elektrokardiogram (EKG) – Untuk merekam dan memeriksa impuls listrik jantung. Jantung yang rusak akan menunjukkan impuls listrik yang tidak normal yang menandakan adanya serangan jantung.
  • Ekokardiogram – Untuk mendapatkan gambaran jantung melalui gelombang suara.
  • Angiogram – Untuk mengetahui jika terdapat sumbatan pada pembuluh darah yang menuju jantung (koroner) dengan cara menyuntikkan zat pewarna khusus ke dalam kateter yang dipasang dari kaki hingga jantung. Perjalanan zat tersebut di dalam pembuluh darah nantinya akan terlihat melalui X-ray.
  • X-ray dada – Untuk mendapatkan gambaran jantung, ukuran, dan pembuluh-pembuluh darahnya.
  • CT atau MRI scan – Untuk memeriksa jika terdapat gangguan lain pada jantung melalui gambaran jantung yang lebih jelas lagi.

Pengobatan Fibrilasi Ventrikel
Perawatan fibrilasi ventrikel terbagi menjadi dua jenis, yaitu perawatan pada kondisi darurat dan perawatan yang dilakukan untuk mencegah serangan terulang kembali. Perawatan ini difokuskan untuk menjaga agar darah tetap mengalir ke seluruh tubuh dan terhindar dari kerusakan otak maupun organ tubuh lainnya, serta untuk mencegah terjadinya serangan fibrilasi ventrikel lain.

Perawatan fibrilasi ventrikel pada kondisi darurat terdiri dari dua macam perawatan, yaitu:
  • Pemberian resusitasi jantung paru atau CPR yang akan menirukan gerakan memompa jantung agar aliran darah di seluruh tubuh tetap terjaga. Bagi orang yang belum mendapat pelatihan CPR, Anda dapat memberi tekanan di dada (kompresi) sebanyak 100 kali per menit dengan menggunakan tangan. Lakukan ini hingga alat kejut jantung (defibrillator) tiba di lokasi kejadian.
  • Defibrilasi atau menggunakan alat kejut jantung (defibrillator) yang akan menghantarkan gelombang listrik ke dada dan jantung untuk mengembalikan detak jantung ke ritme yang beraturan.
  • Perawatan fibrilasi ventrikel yang ditujukan untuk mencegah serangan lanjutan mungkin direkomendasikan pada kasus fibrilasi ventrikel yang disebabkan oleh adanya jaringan parut akibat serangan jantung, atau perubahan struktur jantung. Dokter dapat memberikan resep obat-obatan atau menyarankan prosedur tertentu, yang akan dijabarkan di bawah ini.

Obat-obatan antiaritmia dan penghambat beta dapat diberikan untuk perawatan jangka panjang maupun pada kondisi darurat bagi penderita fibrilasi ventrikel maupun henti jantung.
Penanaman suatu alat untuk membantu mengembalikan ritme jantung ke kondisi yang dianggap normal mungkin akan direkomendasikan dokter setelah kondisi penderita telah stabil. Prosedur ini akan lebih efektif mencegah aritmia yang fatal dibanding pemberian obat-obatan. Alat yang bernama implantable cardioverter-defibrillator (ICD) ini akan memonitor ritme jantung penderita dan mengirimkan daya listrik yang rendah maupun tinggi ketika ritme jantung mulai berdetak tak normal.
Angioplasti koroner untuk membuka pembuluh darah yang tersumbat dan menjaganya tetap terbuka dengan menempatkan suatu tabung kateter dengan balon di ujungnya agar darah dapat mengalir dengan lancar ke jantung. Prosedur ini dilakukan pada kasus fibrilasi ventrikel yang disebabkan oleh serangan jantung sekaligus untuk mengurangi risiko terjadinya serangan lanjutan.
Operasi bypass jantung yang bertujuan untuk memulihkan aliran darah menuju jantung dengan cara membuat saluran pembuluh darah Dengan lancarnya suplai darah ke jantung, maka risiko untuk mengalami fibrilasi ventrikel berikutnya juga akan berkurang.
Beberapa komplikasi berikut mungkin terjadi pada penderita fibrilasi ventrikel, yaitu:
  • Cedera iskemik pada sistem saraf pusat
  • Kematian
  • Kulit terbakar akibat prosedur defibrilasi
  • Cedera akibat prosedur CPR
  • Pencegahan Fibrilasi Ventrikel

Memulai gaya hidup sehat dapat membantu Anda menjaga kondisi jantung dan terhindar dari fibrilasi ventrikel maupun serangan jantung yang dapat berujung pada kematian. Mulailah melakukan beberapa perubahan pada pola hidup Anda dengan langkah-langkah berikut:
  • Memulai pola makan yang sehat dan berimbang
  • Menjaga berat badan agar tetap dalam batas yang normal, sesuai dengan indeks masa tubuh (IMT)
  • Berhenti merokok
  • Tetap aktif bergerak, misalnya dengan berjalan kaki selama 30 menit setiap harinya.

Sumber : https://www.alodokter.com/fibrilasi-ventrikel

Fibrilasi Atrium


Fibrilasi atrium adalah kondisi ketika serambi (atrium) jantung berdenyut dengan tidak beraturan dan cepat. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya penggumpalan darah, stroke, dan gagal jantung.

Dalam keadaan normal, jantung berdetak dengan irama beraturan agar dapat mengalirkan darah dari serambi (atrium) jantung ke bilik (ventrikel) jantung, untuk selanjutnya dialirkan ke paru-paru atau ke seluruh tubuh. Namun pada fibrilasi atrium, hantaran listrik pada jantung dan irama denyut jantung mengalami gangguan, sehingga atrium gagal mengalirkan darah ke ventrikel.
Fibrilasi atrium dapat muncul karena penyakit lain atau bisa juga terjadi orang yang sehat tanpa gangguan medis tertentu. Rentang waktu terjadinya juga bervariasi. Ada yang hanya sesekali muncul dan berlangsung dalam hitungan menit atau jam, lalu setelah itu dapat pulih dengan sendirinya, yang disebut sebagai fibrilasi atrium paroksismal (occasional). Ada juga yang memakan waktu lebih lama, yaitu lebih dari satu minggu (persistent), lebih dari satu tahun (long-standing pesistent), bahkan kronis atau menetap (permanent). Untuk ketiga jenis yang disebutkan terakhir tersebut, diperlukan obat atau metode penanganan medis lainnya guna menormalkan sistem penghantaran listrik jantung.

Meski tidak mengancam nyawa, fibrilasi atrium membutuhkan penanganan yang yang serius guna menghindari komplikasi yang lebih parah. Penanganan yang dilakukan tergantung dari jenis dan tingkat keparahan gejala yang dirasakan oleh penderita.

Gejala Fibrilasi Atrium
Gejala umum yang dirasakan penderita fibrilasi atrium adalah jantung berdebar atau detak jantung terasa lebih cepat.serta tidak beraturan. Sedangkan gejala lainnya meliputi:
  • Kelelahan, terutama saat berolahraga.
  • Pusing.
  • Napas pendek.
  • Lemah.
  • Nyeri dada.
  • Penyebab Fribrilasi Atrium

Fibrilasi atrium terjadi ketika terdapat gangguan pada penghantaran sinyal listrik jantung, di mana terlalu banyak impuls listrik yang melewati nodus atrioventrikular (AV node) yang berfungsi sebagai penghubung listrik antara atrium dan ventrikel. Akibatnya, denyut jantung menjadi lebih cepat (sekitar 100-175 denyut per menit) dari denyut jantung normal (60-100 denyut per menit). Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur jantung.

Beberapa kondisi medis yang diduga menjadi penyebab fibrilasi atrium adalah:
  • Infeksi virus.
  • Kelainan jantung bawaan.
  • Metabolisme yang tidak seimbang, termasuk kelenjar tiroid yang terlalu aktif.
  • Penyakit paru-paru, tekanan darah tinggi, dan serangan jantung koroner.
  • Paparan obat, alkohol, atau tembakau.
  • Gangguan pernapasan saat tidur (sleep apnea).
  • Pernah menjalani operasi jantung.
  • Mengalami sick sinus syndrome, di mana pencetus impuls listrik jantung tidak bekerja dengan normal.
  • Stres akibat dari suatu penyakit atau operasi.

Selain kondisi medis di atas, beberapa faktor lain yang juga dapat membuat seseorang rentan mengalami fibrilasi atrium adalah:
  • Adanya riwayat penyakit fibrilasi atrium dalam keluarga.
  • Obesitas.
  • Kebiasaan mengonsumsi alkohol.
  • Usia lanjut.

Diagnosis Fibrilasi Atrium
Setelah melakukan pemeriksaan fisik dan meninjau riwayat penyakit, dokter akan menetapkan diagnosis melalui beberapa pemeriksaan, meliputi pemeriksaan darah, pemindaian dada, elektrokardiogram (EKG) dengan treadmill atau dengan holter monitor yang mencatat kegiatan jantung selama 24 jam, serta pemantauan kerja jantung selama beberapa minggu atau bulan dengan alat EKG portabel. Selain itu, pemeriksaan lainnya yang mungkin direkomendasikan untuk menunjang diagnosis adalah echocardiogram, yaitu pemeriksaan noninvasif dengan gelombang suara untuk merekam gambaran jantung.

Pengobatan Fibrilasi Atrium
Pengobatan fibrilasi atrium akan didasarkan pada kondisi medis yang dialami penderita, termasuk jangka waktu berlangsungnya gejala. Tujuan pengobatan adalah untuk mengembalikan dan mempertahankan irama jantung, serta mencegah penyumbatan darah. Cara awal yang bisa dilakukan adalah melalui pemberian obat-obatan, seperti:
  • Obat antikoagulan, untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah dan mengatasi penyumbatan darah yang sudah terjadi. Contoh obat yang biasanya diberikan adalah aspirin dan warfarin. Kendati demikian, obat antikoagulan memiliki efek samping berupa risiko perdarahan.
  • Obat pengendali denyut jantung, untuk mengendalikan atau mengembalikan denyut jantung ke posisi normal. Obat yang dapat diberikan adalah penghambat beta untuk membuat denyut jantung lebih lambat (contohnya atenolol, biropolol, atau metoprolol), obat penghambat kanal kalsium untuk mengurangi kontraksi sel otot (contohnya diltiazem dan verapamil), serta digoxin untuk mengurangi percepatan denyut jantung dari atrium ke ventrikel.
  • Antiaritmia untuk mencegah terjadinya fibrilasi atrium di masa mendatang. Contoh obat-obatan ini adalah defetilide, flecainide, propafenone, amiodarone, atau sotalol. Efek samping yang mungkin timbul adalah pusing, mual, atau kelelahan.

Di samping pemberian obat, terdapat juga beberapa pilihan tindakan noninvasif (tanpa pembedahan). Tindakan tersebut dapat berupa:
  • Electrical cardioversion. Dalam prosedur ini, diberikan kejutan listrik pada daerah dada. Kejutan listrik tersebut akan menghentikan aktivitas listik jantung untuk sesaat dan selanjutnya dapat mengemballikan denyut jantung menjadi normal. Prosedur ini didahului dengan pembiusan.
  • Ablasi kateter. Prosedur ini adalah untuk menonaktifkan titik-titik pencetus listrik abnormal pada jantung, dengan memasukkan suatu alat ablasi dengan kateter lewat pembuluh darah di daerah lipat paha ke arah jantung.
  • Ablasi nodus atriventrikular. Prosedur ini dilakukan untuk menonaktifkan nodus atrioventrukular (AV node), sehingga sinyal listrik abnormal dari atrium tidak diteruskan ke ventrikel. Dengan tidak berfungsinya AV node, ventrikel jantung tidak mendapatkan impuls lisrik dan berhenti berdenyut. Untuk itu, dipasangkan sebuah alat pacu jantung untuk memberikan impuls listrik yang normal pada ventrikel.

Jika tindakan di atas belum dapat mengatasi masalah fibrilasi atrium, maka metode pengobatan selanjutnya yang mungkin akan direkomendasikan adalah prosedur operasi atau pembedahan, seperti:
  • Pemasangan alat pacu jantung. Alat pacu jantung akan dipasang pada tulang selangka di bawah kulit. Fungsinya adalah untuk mengirimkan sinyal listrik yang dapat mempertahankan denyut jantung dalam keadaan normal.
  • Maze procedure. Dalam prosedur bedah jantung terbuka ini, dokter membuat sayatan-sayatan kecil pada bagian atas jantung. Sayatan tersebut akan membentuk jaringan parut yang dapat menghambat penghantaran impuls listrik abnormal penyebab fibrilasi atrium. Hasilnya, detak jantung yang terlalu cepat dapat kembali normal.

Pencegahan Fibrilasi Atrium
Menurunkan risiko terjadinya fibrilasi atrium dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat, antara lain:
  • Menghentikan kebiasaan merokok.
  • Mengonsumsi makanan yang sehat untuk jantung, serta membatasi asupan garam, lemak, dan kolesterol.
  • Membatasi konsumsi alkohol dan kafein.
  • Menjaga berat badan yang normal.
  • Mengendalikan tekanan darah dan kadar kolesterol dalam darah.

Sumber : https://www.alodokter.com/fibrilasi-atrium

Feokromositoma


Kelenjar adrenal merupakan organ berbentuk seperti segitiga yang terletak di atas ginjal. Normalnya, manusia memiliki sepasang kelenjar adrenal. Kelenjar ini terdiri dari dua bagian, yaitu korteks (bagian luar) dan medula (bagian dalam). Kelenjar adrenal menghasilkan hormon katekolamin. Hormon katekolamin terdiri dari tiga jenis hormon, yaitu hormon norepinefrin, epinefrin (adrenalin), dan dopamin. Fungsi hormon-hormon ini adalah mengatur detak jantung, tekanan darah, kadar gula darah, dan reaksi terhadap stres.
Feokromositoma adalah tumor yang berasal dari sel kromafin. Sel ini terletak di kelenjar adrenal dan berfungsi untuk menghasilkan hormon katekolamin. Pada feokromositoma, sel kromafin tersebut menghasilkan hormon secara berlebihan sehingga fungsi metabolisme tubuh terganggu. Biasanya, feokromositoma hanya terjadi pada salah satu kelenjar adrenal. Dalam satu kelenjar tersebut, dapat ditemukan lebih dari satu massa tumor.

Sebagian besar feokromositoma bersifat jinak alias tidak menyebar ke organ lain. Namun, tumor ini dapat menyebabkan berbagai gejala yang membutuhkan pengobatan. Hanya sekitar 10% feokromositoma yang bersifat ganas dan dapat menyebar ke organ lain di luar kelenjar adrenal.
Feokromositoma termasuk jenis tumor yang sangat jarang terjadi. Di Amerika Serikat, hanya ditemukan 2 kasus dari 1.000.000 penduduk setiap tahun. Kasus feokromositoma ditemukan lebih banyak 0,1–1% pada orang yang menderita tekanan darah tinggi (hipertensi). Tumor ini dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Sementara itu, feokromositoma lebih sering terjadi pada umur 30–50 tahun. Sekitar 10% kasus terjadi pada anak-anak. Sayangnya, di Indonesia belum terdapat data mengenai jumlah kasus feokromositoma. Banyak penderita feokromositoma yang tidak terdiagnosis selama masa hidupnya.

Faktor Risiko
Satu-satunya faktor risiko feokromositoma yang diketahui adalah penyakit akibat genetik. Faktor ini ditemukan kira-kira pada 25% kasus. Penyakit genetik yang dimaksud adalah:
  • Sindrom von Hippel-Lindau(vHL)
  • Sindrom Multiple Endocrine Neoplasia tipe 2A and 2B (MEN2A and 2B)
  • Neurofibromatosis tipe 1 (NF1)
  • Sindrom Paraganglioma Familial
  • Sindrom Carney Stratakis

Derajat keparahan
Tidak seperti kanker lainnya, tidak ada sistem klasifikasi standar untuk feokromositoma. Feokromositoma dikelompokkan menjadi:
  • Terlokalisir: terbatas pada satu atau kedua kelenjar adrenal
  • Regional: menyebar ke kelenjar getah bening terdekat atau organ lain yang dekat dengan tumor asal
  • Metastasis: menyebar ke organ yang jauh dari tumor asal, seperti hati, paru-paru, atau tulang.

Gejala
Produksi katekolamin berlebihan pada penderita feokromositoma dapat menimbulkan berbagai gejala seperti berikut:
  • tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • sakit kepala
  • keringat berlebihan tanpa penyebab yang diketahui
  • jantung berdebar-debar
  • nyeri dada
  • gelisah.

Selain itu, dapat ditemukan gejala lain yang lebih jarang, yaitu :
  • nyeri dada atau perut
  • mual dan muntah
  • diare
  • susah buang air besar (konstipasi)
  • rasa lemah atau lemas
  • pucat
  • berat badan menurun
  • hipotensi ortostatik (rasa pusing atau seperti mau pingsan akibat penurunan tekanan darah secara tiba-tiba karena perubahan posisi dari duduk ke berdiri yang mendadak)
  • diabetes mellitus (akibat kegagalan metabolisme karbohidrat)

Terkadang, tidak seluruh gejala yang disebutkan di atas akan muncul. Gejala yang paling sering adalah hipertensi yang sulit dikontrol dengan obat-obatan dan perubahan gaya hidup. Tingginya tekanan darah dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, seperti denyut jantung tidak teratur, serangan jantung, stroke, ataupun kematian. Oleh karena itu, walaupun sebenarnya feokromositoma biasanya bersifat jinak, gejala dari penyakit inilah yang sebaiknya diwaspadai.

Gejala-gejala yang telah disebutkan di atas lebih mudah terlihat pada kondisi berikut:
  • aktivitas fisik yang berat
  • trauma fisik atau mengalami stres emosional
  • operasi, termasuk prosedur saat mengangkat tumor
  • makan makanan yang banyak mengandung tiramin (seperti anggur merah, coklat, dan keju)
  • saat dibius
  • saat persalinan

Penegakan diagnosis
Anamnesis (tanya jawab dengan dokter) dan pemeriksaan fisik sederhana:
Pada tahap anamnesis dan pemeriksaan fisik sederhana, dokter akan mencari gejala-gejala penyakit yang telah disebutkan  di atas, seperti tekanan darah tinggi, jantung berdebar, dan lain-lain.

Pemeriksaan urine tampung 24 jam:
Pemeriksaan dilakukan dengan cara menampung urine selama 24 jam. Kemudian, diukur jumlah hormon katekolamin (epinefrin, norepinefrin, dan dopamin) serta hasil metabolisme katekolamin (metanefrin dan normetanefrin). Jika dalam pemeriksaan ditemukan peningkatan kadar katekolamin atau metabolismenya, patut dicurigai adanya feokromositoma.

Pemeriksaan metanefrin:
Pengukuran metanefrin menggunakan sampel darah. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling baik pada pasien dengan risiko berikut:
  • pasien memiliki tumor adrenal
  • keluarga pasien merupakan penderita feokromositoma
  • pasien memiliki penyakit genetik yang telah disebutkan di atas. 

Namun, hasil yang positif tidak selalu menunjukkan diagnosis feokromositoma. Kondisi-kondisi di bawah ini dapat memberikan hasil yang positif:
  • konsumsi obat-obatan tertentu, seperti antidepresan trisiklik
  • stres emosional
  • makanan, seperti kopi dan pisang.

Oleh karena itu, setelah melakukan pemeriksaan ini, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan urine tampung 24 jam untuk mengonfirmasi diagnosis.

Pemeriksaan radiologi
CT-scan: pada kasus feokromositoma, biasanya akan dilakukan pemeriksaan CT-scan pada bagian perut dan panggul. Pemeriksaan ini dapat menampilkan gambar potongan-potongan dari kelenjar adrenal sehingga memperlihatkan gambaran yang lebih rinci daripada MRI

Magnetic resonance imaging (MRI): pemeriksaan ini memanfaatkan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk melihat gambaran organ dalam tubuh dengan lebih jelas.

Metaiodobenzylguanidine scan (MIBG scan): prosedur ini menggunakan metaiodobenzylguanidine (MIBG) yang merupakan suatu zat radioaktif. Zat ini disuntikkan ke pembuluh darah vena, kemudian diserap oleh jaringan Feokromositoma. Lalu, dilakukan scan untuk mendeteksi keberadaan MIBG dalam tubuh. Tentunya, MIBG akan terkumpul pada jaringan feokromositoma sehingga lokasi tumor dapat terdeteksi saat dilakukan scan. Pemeriksaan ini memakan waktu 1–3 hari.

Octreotide scan: pemeriksaan ini menggunakan prinsip yang mirip dengan MIBG scan. Bedanya, zat yang dimasukkan adalah octreotide, sejenis hormon yang akan menempel pada tumor. Ocreotide juga dimasukkan melalui pembuluh darah vena, kemudian dideteksi oleh kamera khusus sehingga lokasi tumor dapat diketahui.

Fluorodeoxyglucose-positron emission tomography scan (FDG-PET scan): prosedur ini bertujuan untuk mencari sel tumor yang ganas. FDG-PET scan memanfaatkan radioaktif glukosa (gula) yang dimasukkan melalui pembuluh darah vena. Lalu, PET scan menunjukkan gambaran lokasi glukosa tersebut digunakan. Sel tumor ganas memiliki metabolisme yang lebih tinggi dibandingkan sel tumor jinak. Akibatnya, jumlah glukosa yang digunakan sel tumor ganas lebih banyak sehingga gambaran pada PET scan menunjukkan warna lebih cerah.

Tata laksana
  • Pembedahan

Setelah feokromositoma terdiagnosis, pilihan pengobatan yang utama adalah pembedahan, baik untuk tumor jinak ataupun ganas. Pada proses pembedahan, dapat dilakukan pengangkatan tumor dan seluruh atau sebagian dari kelenjar adrenal. Jika kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya, organ dan jaringan yang terkena harus diangkat juga. Pembedahan biasanya mampu mengatasi gejala yang dialami pasien, termasuk hipertensi. Pemberian obat-obatan diperlukan untuk mengontrol tekanan darah sebelum pembedahan. Tujuannya adalah untuk mencegah komplikasi selama operasi.

Beberapa minggu setelah operasi, kadar katekolamin dalam darah dan urine diperiksa. Jika hasilnya normal, operasi dianggap berhasil. Pada pembedahan yang mengangkat kedua kelenjar adrenal, diperlukan terapi pengganti hormon untuk menggantikan fungsi kelenjar adrenal sebagai penghasil hormon.
  • Terapi Radiasi

Terapi radiasi adalah terapi yang menggunakan energi dari sinar-x (x-ray) untuk membunuh sel kanker. Ada dua jenis terapi radiasi, yaitu:
  • Terapi radiasi eksternal yang menggunakan mesin di luar tubuh untuk memancarkan radiasi pada kanker.
  • Terapi radiasi internal memanfaatkan zat radioaktif yang dimasukkan ke dalam tubuh untuk membunuh sel kanker dari dalam tubuh.
  • Terapi radiasi biasanya diberikan pada kasus feokromositoma ganas yang telah menyebar ke tulang. Tujuannya adalah untuk mengurangi gejala, seperti rasa nyeri. Dosis dan lama pemberian terapi radiasi berbeda-beda, tergantung lokasi tumor dan berbagai faktor lainnya. Biasanya, terapi dilakukan selama dua minggu.

MIBG dapat digunakan sebagai untuk menegakkan diagnosis ataupun terapi. Terapi ini biasanya digunakan untuk feokromositoma ganas. Terapi MIBG memiliki efek samping, yaitu menekan produksi sel darah dari sumsum tulang. Akibatnya, diperlukan pemeriksaan hitung darah lengkap. Setelah melakukan terapi MIBG, diperlukan pemeriksaan MIBG scan ulang. Jika pada pemeriksaan ulang terdapat penurunan penyerapan MIBG, terapi dikatakan berhasil.

  • Kemoterapi

Kemoterapi berbentuk menggunakan obat-obatan yang ditelan atau disuntikkan. Pada kasus feokromositoma, kemoterapi tidak digunakan sebagai terapi utama. Terapi ini diberikan untuk feokromositoma ganas yang tidak membaik dengan terapi MIBG. Obat kemoterapi yang biasanya digunakan adalah siklofosfamid, vinkristin, dan dacarbazine.

  • Terapi ablasi

Ablasi adalah terapi yang merusak jaringan atau fungsi jaringan tersebut. Jenis-jenis terapi ablasi yang dapat dilakukan adalah:

Radiofrekuensi ablasi: prosedur ini menggunakan gelombang radio untuk memanaskan dan menghancurkan sel tumor.
Krioablasi: prosedur ini menyebabkan jaringan menjadi membeku, kemudian menghancurkan sel-sel kanker. Biasanya, digunakan cairan nitrogen atau karbondioksida untuk membekukan jaringan.

  • Terapi embolisasi

Pada terapi embolisasi, dilakukan pemblokiran aliran darah ke kelenjar adrenal. Hal ini menyebabkan sel kanker tidak mendapatkan asupan nutrisi dan oksigen. Dengan demikian, sel kanker tidak bisa berkembang dan pada akhirnya mati.

  • Terapi target

Terapi target menyerang beberapa komponen yang mendukung pertumbuhan sel kanker secara spesifik, tanpa merusak sel normal. Terapi target digunakan untuk feokromositoma rekuren (berulang) dan metastasis (menyebar). Contoh terapi target yang digunakan untuk kasus feokromositoma adalah sunitinib.

Selain pengobatan tumor yang telah disebutkan di atas, penderita feokromositoma juga mendapatkan obat-obatan lain untuk mengurangi gejala tumor. Obat-obatan yang dimaksud adalah :
  • Obat untuk mengontrol tekanan darah.
  • Obat yang menjaga denyut jantung dalam batas normal.

Jika akan dilakukan operasi, obat-obatan ini diberikan 1–3 minggu sebelumnya.

  • Konseling genetik juga dapat dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya mutasi genetik. Pasien yang perlu melakukan konseling genetik adalah:
  • Memiliki keluarga yang mengalami feokromositoma
  • Tumor pada kedua kelenjar adrenal
  • Lebih dari satu tumor pada satu kelenjar adrenal
  • Terdiagnosis feokromositoma sebelum usia 40 tahun
  • Memiliki gejala peningkatan katekolamin

Bila ditemukan adanya perubahan genetik, anggota keluarga lainnya juga dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan genetik.

Pencegahan
Tidak ada langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah feokromositoma karena faktor risiko yang diketahui adalah genetik.

Prognosis
Prognosis feokromositoma bergantung pada :
  • jenis tumor, jinak atau ganas
  • ada tidaknya penyebaran tumor ke area tubuh lainnya
  • tumor merupakan kasus pertama kali atau rekuren (berulang)
  • ada tidaknya gejala akibat katekolamin yang berlebihan

Tidak ada data yang jelas mengenai angka kelangsungan hidup pasien dengan feokromositoma. Walaupun pasien dengan feokromositoma jinak memiliki angka kelangsungan hidup yang sama seperti orang normal, 6,5–16,5% pasien mengalami kekambuhan. Kekambuhan biasanya terjadi 5–15 tahun setelah operasi. Sekitar 50% kasus feokromositoma yang kambuh akan mengalami penyebaran ke organ tubuh yang lain dan peluang bertahan hidup dalam jangka waktu 5 tahun adalah 40–45%.

Feokromositoma pada kehamilan
Kira-kira ada 1 kasus dari 50.000 ibu hamil. Feokromositoma dapat menyebabkan penyakit serius terhadap ibu dan janin. Berikut adalah tanda-tanda feokromositoma pada kehamilan adalah:
  • peningkatan tekanan darah selama tiga bulan awal kehamilan
  • peningkatan tekanan darah tinggi secara tiba-tiba
  • tekanan darah tinggi yang sulit diturunkan dengan obat-obatan.

Ibu yang berisiko tinggi mengalami feokromositoma harus menjalani pemeriksaan sebelum persalinan. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan kadar katekolamin darah dan urine. Untuk menentukan letak tumor, digunakan MRI karena tidak menggunakan radiasi yang berbahaya bagi janin.

Sumber : https://kankere.com/article/content/feokromositoma-50

Fasciitis Necrotizing


Necrotizing fasciitis (NF) adalah infeksi langka jaringan lunak yang mengancam jiwa, merupakan salah satu keadaan darurat medis dan bedah. Necrotizing fasciitis umumnya dikenal sebagai penyakit pemakan daging atau sindrom bakteri pemakan daging, adalah infeksi langka lapisan lebih dalam dari kulit dan jaringan subkutan dengan mudah menyebar di fasia dalam jaringan subkutan. Saat infeksi ini menyebar di sepanjang lapisan jaringan lemak yang mengelilingi otot, ia disebut NF, tetapi ketika penyakit menyebar ke jaringan otot, disebut miositis nekrosis. Kejadian keseluruhan diperkirakan 3,5 kasus per 100.000 orang dengan tingkat mortalitas antara 10% sampai 40% dan dapat meningkat setinggi 80% tanpa intervensi medis atau bedah dini. NF sering melibatkan ekstremitas, dinding abdomen dan perineum, tapi keterlibatan cervico-facial sangat jarang terjadi. Seperti pada infeksi pada umumnya, penyakit ini melibatkan peristiwa pengendapan, agen infeksius dan host, sebagai infeksi odontogenik yang merupakan peristiwa pengendapan paling umum dan Streptococcus Grup A sebagai agen infeksi yang paling umum. Patogenesis penyakit ini ditandai dengan invasi bakteri pada jaringan subkutan, dengan penyebaran infeksi horizontal yang cepat sepanjang bidang fasia dalam dan pelepasan racun bakteri, yang mengakibatkan iskemia jaringan dan nekrosis liquefaktif. Penetapan diagnosis dari NF tidaklah mudah, pemeriksaan lanjutan pertama yang paling penting untuk diagnosis dini NF juga belum ditemukan. Biasanya, lesi minor pada kulit atau trauma adalah awal mula infeksi dari NF. Temuan sistemik meliputi demam, takikardia, hipotensi, dan syok. Setelah dicurigai, manajemen harus terdiri dari resusitasi segera sesuai dengan kebutuhan pasien, pemberian antibiotik intravena spektrum luas dan intervensi bedah dini. Prinsip pengobatan untuk setiap jenis infeksi bedah adalah kontrol sumber, terapi antimikroba, dukungan, dan pemantauan.

Sumber : https://www.researchgate.net/publication/324744325_Necrotizing_Fasciitis_Penyakit_Pemakan_Daging

Faringitis (Radang Tenggorokan)


Radang tenggorokan atau faringitis adalah sakit tenggorokan yang disebabkan oleh radang bagian belakang tenggorokan, atau yang dalam dunia medis disebut dengan faring. Masyarakat Indonesia sering menyebutnya dengan sebutan panas dalam.

Radang tenggorokan akan membuat Anda merasa tidak nyaman karena tenggorokan akan terasa sakit atau panas, sehingga membuat Anda kesulitan untuk makan.

Sakit tenggorokan adalah gejala umum dari beberapa penyakit yang berbeda atau terjadi karena penyakit lain, seperti flu, demam, dan mononukleosis (demam kelenjar). Sakit tenggorokan biasanya akan mereda tanpa obat radang tenggorokan dalam waktu kurang dari seminggu.

Seberapa umumkah radang tenggorokan (faringitis)?
Kondisi ini dapat memengaruhi semua orang, tanpa memandang usia dan jenis kelamin. Siapapun bisa mengalami radang tenggorokan baik anak-anak, orang dewasa, atau orang lanjut usia. Namun anak-anak berusia antara 5 sampai 15 tahun cenderung paling sering terkena sakit tenggorokan.

Pada orang dewasa, 10% sakit tenggorokan yang mereka alami disebabkan oleh infeksi bakteri streptococcus. Anda dapat mengatasi radang tenggorokan ini dengan mengurangi faktor risiko, untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa diskusikan dengan dokter.

Apa saja ciri-ciri dan gejala radang tenggorokan (faringitis)?
Jika Anda mengalami radang tenggorokan, biasanya Anda akan mengalami rasa tidak nyaman dalam tenggorokan. Gejala lain yang muncul biasanya tergantung pada penyebabnya, gejala umum yang muncul pada radang tenggorokan adalah:
  • Sakit tenggorokan
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri sendi dan nyeri otot
  • Ruam kulit
  • Membengkaknya kelenjar getah bening di leher

Karena gejala radang tenggorokan bergantung pada penyebabnya, maka gejala sakit tenggorokan yang Anda rasakan bisa bervariasi. Gejala sakit tenggorokan yang disebabkan oleh demam adalah:
  • Bersin
  • Batuk
  • Demam dengan suhu 38 derajat Celsius
  • Sakit kepala ringan

Sedangkan gejala sakit tenggorokan yang disebabkan oleh  flu adalah:
  • Kelelahan
  • Pegal-pegal
  • Panas dingin
  • Demam dengan suhu lebih dari 38 derajat Celsius

Sedangkan gejala sakit tenggorokan yang disebabkan oleh mononukleosis atau demam kelenjar adalah:
  • Pembesaran kelenjar getah bening di leher dan ketiak
  • Amandel membengkak
  • Sakit kepala
  • Kehilangan selera makan
  • Pembengkakan limpa
  • Peradangan hati

Jika Anda merasa bahwa gejala radang tenggorokan yang Anda rasakan telah mengganggu aktivitas harian Anda, segera konsultasikanlah keluhan Anda kepada dokter untuk mendapatkan obat radang tenggorokan yang tepat dan sesuai dengan kondisi Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?
Umumnya sakit tenggorokan akan sembuh dalam satu minggu tanpa konsumsi obat-obatan. Jika sakit tenggorokan dan demam tidak kunjung sembuh walau sudah diobati, Anda dianjurkan untuk segera berkonsultasi kepada dokter.

Jika yang mengalami radang tenggorokan adalah anak-anak, American Academy of Pediatrics merekomendasikan Anda untuk memberikan air putih ketika anak terbangun di pagi hari.

Segera bawa anak Anda ke dokter anak untuk mendapatkan obat radang tenggorokan yang tepat, jika cara di atas tidak berhasil dan malah muncul tanda-tanda yang lebih parah seperti:
  • Kesulitan bernapas
  • Kesulitan menelan
  • Ada darah di dalam air liur

Jika Anda orang dewasa, American Academy of Otolaryngology menyarankan Anda untuk segera menemui dokter apabila Anda mengalami sakit tenggorokan seperti berikut ini:
  • Sakit tenggorokan yang parah yang berlangsung lebih lama dari 7 hari
  • Kesulitan menelan
  • Kesulitan bernafas
  • Kesulitan membuka mulut
  • Nyeri sendi
  • Sakit telinga
  • Ruam
  • Demam lebih tinggi dari 38 derajat Celsius
  • Darah dalam air liur
  • Sakit tenggorokan yang terus berulang
  • Benjolan di leher
  • Suara serak yang berlangsung lebih dari 2 minggu

Demam yang menyertai sakit tenggorokan sebaiknya segera diperiksakan karena bisa menjadi gejala untuk kondisi-kondisi lebih serius, seperti:
  • Abses peritonsiler atau quinsy. Pembengkakan bernanah antara langit-langit tenggorokan dan bagian belakang tonsil.
  • Epiglottitis. Peradangan lipatan jaringan di belakang tenggorokan, di bawah lidah (epiglotis) yang bisa menghambat pernapasan jika tidak ditangani dengan baik.
  • Infeksi mononukleosis. Infeksi virus Epstein Barr yang ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening, demam, dan sakit tenggorokan.

Apa penyebab radang tenggorokan (faringitis)?
Penyebab sakit tenggorokan biasanya adalah virus dan bakteri. Virus dan bakteri yang menyebabkan pilek dan influenza sebagian besar juga akan mempengaruhi sakit tenggorokan. Virus sebuah penyakit yang menyebabkan sakit tenggorokan antara lain:
  • Pilek
  • Flu (influenza)
  • Mononukleosis (demam kelenjar)
  • Campak
  • Cacar air
  • Croup atau infeksi pernapasan yang sering terjadi pada anak-anak yang ditandai dengan batuk keras yang menggonggong

Sedangkan infeksi bakteri yang bisa menyebabkan sakit tenggorokan adalah streptococcus pyogenes dan streptococcus kelompok A. Selain virus dan bakteri, radang tenggorokan juga bisa disebabkan oleh hal berikut ini:
  • Alergi. Alergi pada bulu binatang peliharaan, jamur, debu dan serbuk sari bunga bisa menyebabkan Anda sakit tenggorokan. Postnasal drip adalah penyebab utama dalam kasus alergi yang disebabkan radang tenggorokan. Hasil paparan alergen, postnasal drip terjadi ketika mampet pada sinus mengalir ke tenggorokan, menyebabkan rasa menggelitik atau rasa sakit gatal.
  • Udara. Udara yang pengap dan panas di dalam sebuah ruangan bisa membuat tenggorokan Anda terasa kasar dan gatal, terutama di pagi hari saat Anda bangun tidur. Bernapas terlalu sering melalui mulut karena hidung tersumbat juga bisa menyebabkan sakit tenggorokan.
  • Iritan (bahan kimia). Polusi udara di luar bisa menyebabkan iritasi tenggorokan terus-menerus. Polusi udara di dalam ruangan karena rokok atau bahan kimia juga bisa menyebabkan radang tenggorokan. Mengunyah tembakau, minum alkohol dan mengonsumsi makanan pedas juga bisa membuat tenggorokan Anda sakit.
  • Otot tegang pada tenggorokan. Otot di tenggorokan Anda bisa menegang, karena Anda selalu sering berteriak, seperti pada acara olah raga, berbicara keras, atau berbicara dalam waktu lama tanpa istirahat.

Penyakit gastroesophageal reflux (GERD). GERD adalah kondisi yang ditandai dengan nyeri pada ulu hati atau sensasi terbakar di dada akibat naiknya asam lambung menuju esofagus. Esofagus yang juga dikenal sebagai kerongkongan adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan mulut dan lambung, yang menyebabkan rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Penyakit asam lambung merupakan masalah kesehatan yang cukup umum terjadi di masyarakat.
Infeksi HIV. Sakit tenggorokan dan gejala flu lainnya terkadang muncul lebih awal pada seseorang yang terinfeksi HIV. Seseorang yang positif mengalami HIV, mungkin akan mengalami sakit tenggorokan kronis atau berulang karena infeksi. Infeksi sakit tenggorokan ini lebih sering terjadi pada seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Tumor. Tumor kanker tenggorokan, lidah, dan laring bisa menyebabkan radang tenggorokan. Tanda atau gejala lain mungkin termasuk suara serak, sulit menelan, sesak napas, benjolan di leher, dan darah dalam air liur.

Siapa yang berisiko terkena radang tenggorokan (faringitis)?
Meskipun setiap orang sangat besar kemungkinannya untuk mengalami sakit tenggorokan. Ada beberapa faktor yang membuat Anda lebih rentan terkena faringitis, antara lain:
  • Usia. Anak-anak dan remaja memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami sakit tenggorokan. Radang tenggorokan pada anak-anak biasanya banyak disebabkan oleh infeksi bakteri.
  • Asap rokok. Merokok dan asap rokok bisa mengiritasi tenggorokan Anda. Penggunaan produk tembakau juga meningkatkan risiko kanker mulut, tenggorokan dan laring (kotak suara).
  • Alergi. Alergi musiman atau reaksi alergi yang terus-menerus terhadap debu, jamur atau bulu hewan peliharaan akan membuat sakit tenggorokan Anda akan lebih parah.
  • Paparan iritan kimia. Polusi udara yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil dan bahan kimia rumah tangga biasa dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan Anda.
  • Infeksi sinus parah. Lendir atau mukus yang dihasilkan oleh sinus berfungsi membantu mengendalikan suhu dan kelembapan udara yang masuk ke paru-paru. Lendir ini mengalir ke hidung melalui saluran-saluran kecil. Saluran ini bisa terhalang jika sinus terinfeksi atau mengalami peradangan dan menyebabkan sakit tenggorokan.
  • Tempat berkumpulnya virus dan bakteri. Infeksi virus dan bakteri bisa menyebar dengan mudah di tempat orang berkumpul, baik di pusat penitipan anak, ruang kelas, kantor atau pesawat terbang.
  • Sistem imun lemah. Anda akan lebih rentan terhadap infeksi jika daya tahan tubuh Anda lemah. Sistem daya tahan tubuh yang lemah ini biasanya disebabkan oleh suatu penyakit seperti HIV, diabetes, pengobatan dengan steroid atau obat kemoterapi, atau karena stres, kelelahan, dan pola makan yang buruk.

Namun perlu Anda ingat, jika Anda tidak menemukan faktor risiko, bukan berarti Anda tidak akan pernah mengalami sakit tenggorokan. Konsultasikan selalu kondisi kesehatan kepada dokter jika Anda merasakan perubahan tidak normal pada tubuh Anda.

Apa saja obat radang tenggorokan yang sering digunakan?
Mengonsumsi obat-obatan pereda rasa sakit
Sakit tenggorokan yang disebabkan oleh virus biasanya tidak membutuhkan pengobatan. Kondisi penderita akan membaik dalam waktu 5-7 hari. Walau demikian, karena rasa tidak nyaman yang dirasakan, obat radang tenggorokan terkadang tetap diperlukan, analgesik atau obat-obatan pereda sakit, seperti ibuprofen dan parasetamol, umumnya disarankan untuk menangani sakit tenggorokan, terutama jika disertai demam dan terjadi pada anak. Berikut ini adalah panduan untuk mengonsumsinya:
  • Selalu baca petunjuk penggunaan obat agar tidak kelebihan dosis.
  • Parasetamol merupakan alternatif terapi bagi anak-anak dan mereka yang tidak bisa mengonsumsi ibuprofen.
  • Aspirin tidak boleh dikonsumsi anak berusia di bawah 16 tahun.
  • Penggunaan antibiotik

Antibiotik sebagai obat radang tenggorokan diberikan pada sakit tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri. Setiap antiobiotik yang diresepkan oleh dokter harus dihabiskan meski gejala sakit tenggorokan sudah membaik. Hal ini dilakukan untuk mencegah infeksi menyebar ke bagian lain tubuh yang dapat memperparah keadaan penderita.

Jika hal ini terjadi pada anak-anak yang sakit tenggorokan akibat streptocoocus, risiko terjadinya demam reumatik dan peradangan serius pada ginjal akan meningkat.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis radang tenggorokan?
Dokter membuat diagnosis dari riwayat pengobatan atau pemeriksaan fisik di sekitar telinga dan tenggorokan. Jika Anda mungkin mengalami infeksi streptococcus (penyebab radang tenggorokan), dokter akan memeriksa cairan di dalam tenggorokan. Tes darah bisa dilakukan bila dokter mencurigai bahwa ada penyakit lainnya misalnya demam kelenjar (demam karena jumlah sel darah putih meningkat).

Dokter akan mencoba melakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk menentukan penyebab timbulnya sakit tenggorokan yang Anda derita. Dengan menggunakan senter kecil, tenggorokan Anda akan diperiksa untuk melihat tanda-tanda infeksi berupa kemerahan atau bercak putih. Dokter juga akan meraba leher untuk memeriksa pembesaran kelenjar dan mendengarkan suara pernapasan menggunakan stetoskop.

Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, dokter mungkin akan menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium berupa tes apusan tenggorokan dan tes darah. Dokter mungkin akan mengambil sedikit sampel cairan di belakang tenggorokan. Kemudian sampel ini akan dites untuk mengetahui apakah bakteri streptocoocus merupakan penyebab sakit tenggorokan. Selain itu, tes darah mungkin akan dilakukan untuk mengetahui apakah penyebab sakit tenggorokan disebabkan oleh virus atau bakteri.

Apa saja perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan untuk mengatasi radang tenggorokan?
Umumnya sakit tenggorokan dapat sembuh dalam kurang dari satu minggu. Beberapa tips dan obat radang tenggorokan dapat membantu memperingan gejala yang Anda alami. Anda disarankan melakukan beberapa hal berikut jika sedang terkena sakit tenggorokan:
  • Konsumsi minuman hangat dan makanan yang lunak
  • Hindari merokok atau menghirup asap rokok
  • Berkumurlah dengan air garam atau obat kumur antiseptik
  • Perbanyak konsumsi air minum
  • Pasien dewasa dapat mengisap es batu atau permen pelega tenggorokan
  • Hindari minuman yang terlalu panas atau terlalu dingin karena dapat menyebabkan iritasi
  • Istirahat yang cukup, termasuk membatasi berbicara untuk sementara
  • Ciptakan udara yang nyaman agar tidak terlalu kering dan memicu iritasi pada tenggorokan
  • Isap permen pelega tenggorokan atau permen biasa untuk meningkatkan produksi air liur pencegah tenggorokan kering
  • Hindari zat pemicu iritasi, seperti asap rokok

Bagaimana cara mencegah sakit tenggorokan?
Meskipun sakit tenggorokan dapat disebabkan oleh banyak hal, terdapat beberapa cara tertentu untuk mencegah timbulnya kondisi tersebut. Hal-hal berikut ini dapat mengurangi risiko infeksi:
  • Selalu cuci tangan dengan teratur, terutama setelah menggunakan fasilitas umum. Selalu bawa cairan antiseptik jika Anda jauh dari jangkauan keran air.
  • Bersihkan barang-barang yang sering digunakan bersama di rumah atau tempat kerja, seperti gagang telepon, gagang pintu, pengendali TV.
  • Hindari berbagi-bagi makanan, minuman, serta peralatan makan dan minum.
  • Hindari asap rokok.
  • Hindari sumber alergi atau iritasi lain yang dapat menjadi pemicu sakit tenggorokan, misalnya debu dan serbuk sari.

Sumber : https://hellosehat.com/penyakit/radang-tenggorokan-faringitis/

Faktor Resiko Yang Berkembang Selama Kehamilan


Selama kehamilan, sebuah masalah bisa terjadi atau sebuah kondisi bisa terbentuk membuat kehamilan beresiko tinggi. Contohnya, wanita hamil bisa terkena sesuatu yang bisa menghasilkan kerusakan kelahiran (teratogens), seperti radiasi, kimia-kimia tertentu, obat-obatan, atau infeksi. Atau sebuah gangguan bisa terjadi. Beberapa gangguan berhubungan dengan (adalah komplikasi dari) kehamilan

Obat-obatan
Beberapa obat-obatan yang digunakan selama kehamilan menyebabkan kerusakan kelahiran. Misalnya alkohol, isotretinoin (digunakan untuk mengobati jerawat akut), beberapa antikonsulvan, litium, beberapa antibiotik (seperti streptomisin, kanamisin, dan tetrasiklin), thalidomide, warfarin, dan penghambat enzim angiotensin-converting (ACE) (digunakan selama akhir trismester kedua). Menggunakan obat-obatan yang menghambat kerja folic acid (seperti methotrexate immunosuppressant atau antibiotik trimethoprim) juga bisa menyebabkan cacat sejak lahir (kekurangan asam folat meningkatkan resiko memiliki bayi cacat sejak lahir). Menggunakan kokain bisa menyebabkan cacat sejak lahir, pelepasan plasenta yang prematur (placental abruption), dan kelahiran prematur. Merokok meningkatkan resiko memiliki seorang bayi dengan berat lahir rendah. Awal kehamilan, wanita ditanyakan apakah mereka menggunakan obat-obatan tersebut. Terutama sekali yang perlu diperhatikan adalah alkohol, kokain, dan merokok.

Gangguan Yang Terjadi Selama Kehamilan
Selama kehamilan, wanita bisa mengalami gangguan yang tidak berhubungan langsung dengan kehamilan. Beberapa gangguan meningkatkan masalah beresiko pada wanita hamil atau janin. Hal tersebut termasuk gangguan yang menyebabkan demam tinggi, infeksi, dan gangguan yang membutuhkan operasi perut. Gangguan-gangguan tertentu lebih mungkin terjadi selama kehamilan karena banyak perubahan kehamilan terjadi di dalam tubuh wanita. Misalnya penyakit thromboembolic, anemia, dan infeksi saluran kemih.

1. Demam : sebuah gangguan yang menyebabkan suhu lebih besar dari 103º F (39.5ºC) selama trimester pertama meningkatkan resiko dari keguguran dan kerusakan otak atau spinal cord pada bayi. Demam pada akhir kehamilan meningkatkan resiko persalinan sebelum waktunya.

2. Infeksi : beberap infeksi yang terjadi secara kebetulan selama kehamilan dapat menyebabkan cacat sejak lahir. Campak jerman (rubella) bisa menyebabkan cacat sejak lahir, terutama sekali pada jantung dan bagian dalam mata. Infeksi cytomegalovirus bisa melewati plasenta dan merusak hati dan otak janin. Infeksi virus lainnya yang bisa membahayakan janin atau menyebabkan kerusakan kelahiran termasuk herpes simplex, dan cacar air (varicella). Toksoplasma, infeksi protozoa, bisa menyebabkan keguguran, kematian janin, dan cacat sejak lahir serius. Listeriosis, infeksi bakteri, juga bisa membahayakan janin. Infeksi bakteri pada vagina (seperti bakteri vaginosis) selama kehamilan bisa menyebabkan persalinan sebelum waktunya atau membran yang berisi janin gugur sebelum waktunya. Pengobatan pada infeksi dengan antibiotik bisa mengurangi kemungkinan masalah-masalah ini.

3. Gangguan yang membutuhkan operasi : selama kehamilan, gangguan yang membutuhkan operasi emergensi meliputi perut mungkin dijalankan. Jenis operasi ini meningkatkan resiko persalinan sebelum waktunya dan menyebabkan keguguran, khususnya pada awal kehamilan. Juga, operasi biasanya ditunda selama mungkin kecuali jika kesehatan jangka panjang si wanita kemungkinan terpengaruhi.

Jika radang usus buntu terjadi selama kehamilan, operasi untuk mengangkat usus buntu (appendectomy) dilakukan dengan segera karena pecahnya usus buntu bisa menjadi fatal. Appendectomy tidak mungkin membahayakan janin atau menyebabkan keguguran. Meskipun begitu, radang usus buntu kemungkinan sulit untuk dikenali selama kehamilan. Rasa kram menyakitkan pada radang usus buntu menyerupai kontraksi rahim, yang mana biasa selama kehamilan. Usus buntu ditekan ke bagian atas perut sebagai proses kehamilan, sehingga letak rasa sakit pada radang usus buntu kemungkinan tidak seperti yang diharapkan.

Jika kista ovarium terjadi selama kehamilan, operasi biasanya ditunda hingga 12 minggu kehamilan. Kista kemungkinan menghasilkan hormon yang membantu kehamilan dan seringkali hilang tanpa pengobatan. Meskipun begitu, jika kista atau massa lain membesar, operasi kemungkinan diperlukan sebelum 12 minggu. Beberapa massa kemungkinan bersifat kanker.

Kerusakan pada usus selama kehamilan bisa jadi sangat serius. Jika kerusakan mengarah ke ganggren usus dan radang selaput perut (peradangan pada membran yang melintasi rongga perut), seorang wanita bisa keguguran dan nyawanya dalam bahaya. Operasi exploratory biasanya dilakukan dengan segera ketika wanita hamil mengalami gejala-gejala kerusakan usus, terutama jika mereka pernah menjalani operasi perut atau infeksi perut.

4. Penyakit thromboembolic : di Amerika Serikat, penyakit thromboembolic merupakan penyebab utama kematian pada wanita hamil. Pada penyakit thromboembolic, gumpalan darah terbentuk di dalam pembuluh darah. Mengalir melalui aliran darah dan menghalangi arteri. Resiko pada pembentukan penyakit thromboembolic meningkat sekitar 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan. Kebanyakan komplikasi menyebabkan penggumpalam darah akibat dari penyakit yang terjadi selama melahirkan. Resiko bertambah banyak setelah operasi sessar dibandingkan setelah melahirkan normal.

Penggumpalan darah biasanya terbentuk di pembuluh luar pada kaki seperti thrombophlebitis atau di dalam darah seperti pembuluh dalam thrombosis. Gejala-gejala termasuk pembengkakan, rasa sakit di betis, dan urat. Akutnya gejala tersebut tidak ada hubungannya dengan penyakit parah. Gumpalan bisa pindah dari kaki menuju paru-paru, dimana bisa menghalangi satu atau lebih arteri pada paru-paru. Penyumbatan ini, disebut emboli paru-paru, bisa mengancam nyawa, jika gumpalan menghambat arteri yang mensuplai otak, menghasilkan stroke. Penggumpalan darah bisa juga terjadi pada pelvis.

Wanita yang mengalami pembekuan darah pada kehamilan sebelumnya bisa diberikan heparin (sebuah antikoagulan) selama kehamilan berikutnya untuk mencegah pembentukan gumpalan darah. Jika wanita memiliki gejala yang diduga pembekuan darah, ultrasonografi Doppler kemungkinan dilakukan untuk memeriksa pembekuan. Jika pembekuan darah diketahui, heparin mulai diberikan tanpa menunda. Heparin kemungkinan disuntikkan ke dalam pembuluh (secara infus) atau di bawah kulit (subkutan). Heparin tidak melalui plasenta dan tidak membahayakan janin. Pengobatan dilanjutkan untuk 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan, ketika resiko pembekuan darah tinggi. Setelah melahirkan, warfarin kemungkinan digunakan sebagai pengganti heparin. Warfarin bisa digunakan dengan mulut, memiliki resiko komplikasi rendah dibandingkan heparin., dan bisa digunakan oleh wanita yang menyusui.

Jika emboli paru-paru diduga, ventilasi paru-paru dan perfusion scan kemungkinan dilakukan untuk memastikan diagnosa. Prosedur ini meliputi menyuntikkan bahan radio aktif dalam jumlah sedikit ke dalam pembuluh. Prosedur ini aman selama kehamilan karena dosis bahan radio aktif kecil. Jika diagnosa pada emboli paru-paru tetap tidak pasti, angiography paru-paru dibutuhkan.

5. Anemia : kebanyakan wanita hamil mengalami beberapa tingkat anemia karena zat besi dibutuhkan untuk menghasilkan sel darah merah pada janin. Anemia bisa muncul selama kehamilan karena kekurangan asam folat. Anemia biasanya dapat dicegah atau diobati dengan menggunakan zat besi dan suplemen asam folat selama kehamilan. Meskipun begitu, jika anemia menjadi parah dan berlangsung lama, kapasitas darah untuk membawa oksigen menurun. Akibatnya, janin tidak bisa mendapatkan cukup oksigen, yang dibutuhkan untuk pertumbuhan normal, khususnya pada otak. Wanita hamil yang mengalami anemia berat bisa menjadi lelah berlebihan, nafas tersengal-sengal, sakit kepala berkunang-kunang. Resiko persalinan preterm meningkat. Jumlah pendarahan normal selama persalinan dan melahirkan bisa menyebabkan anemia yang sangat membahayakan pada wanita ini. Wanita dengan anemia lebih mungkin mengalami infeksi setelah melahirkan. Juga, jika asam folat berkurang, resiko memiliki bayi dengan cacat lahir pada otak dan tulang belakang, seperti spina bifida, meningkat.

6. Infeksi saluran kemih : infeksi saluran kemih biasa selama kehamilan, kemungkinan disebabkan melebarnya rahim memperlambat aliran air seni dengan menekan pipa yang menghubungkan ginjal dengan kantung kemih (ureters). Ketika air seni mengalir lambat, bakteri tidak bisa membilas pada saluran air seni. meningkatkan resiko sebuah infeksi. Infeksi ini meningkatkan resiko persalinan preterm dan cepat luruh pada selaput yang mengandung janin. Kadangkala infeksi pada kantung kemih atau ureter menyebar ke saluran air seni dan menuju ginjal, menyebabkan. Pengobatan terdiri dari terapi antibiotik.

Komplikasi Kehamilan
Komplikasi kehamilan adalah masalah yang terjadi hanya selama kehamilan. Hal itu bisa mempengaruhi wanita tersebut, janin, atau keduanya dan bisa terjadi pada waktu berlainan selama kehamilan. Misalnya, komplikasi seperti plasenta salah tempat (plasenta previa) atau pelepasan prematur pada plasenta dari uterus (placental abruption) bisa menyebabkan pendarahan dari vagina selama 3 bulan terakhir pada kehamilan. Wanita yang berdarah pada waktunya berisiko kehilangan bayi atau pendarahan berlebihan (hemorrhaging) atau sekarat selama persalinan dan melahirkan. Meskipun begitu, kebanyakan komplikasi kehamilan bisa di obati secara efektif. 

Beberapa masalah yang terjadi dari kelainan hormon selama kehamilan hanya kejadian minor, gejala sementara pada wanita hamil. Misalnya, pengaruh hormon normal pada kehamilan bisa memperlambat pergerakan pada empedu melalui pembuluh empedu, cholestasis pada kehamilan bisa terjadi. Gejala paling jelas adalah rasa gatal di seluruh tubuh (biasanya pada beberapa bulan terakhir kehamilan). Tidak terdapat ruam. Jika rasa gatal hebat, cholestyramine bisa diberikan. Gangguan ini biasanya dipecahkan setelah melahirkan tetapi cenderung sembuh pada kehamilan berikutnya.

1. Hyperemesis gravidarum : hyperemesis gravidarum adalah rasa mual yang luar biasa keras dan muntah berlebihan selama kehamilan. Hyperemesis gravidarum berbeda dari morning sickness biasa. Jika wanita seringkali muntah dan menderita mual berkelanjutan mereka kehilangan berat badan dan menjadi dehidrasi, mereka menderita hyperemesis gravidarum. Jika wanita kadangkala muntah tetapi bertambah berat badan dan tidak dehidrasi, mereka tidak mengalami hyperemesis gravidarum. Penyebab hyperemesis gravidarum tidak diketahui.

Karena hyperemesis gravidarum bisa mengancam nyawa wanita hamil dan janin, wanita yang menderita harus dirawat di rumah sakit. Cairan infus dimasukkan ke dalam pembuluh untuk memberikan cairan, gula (glukosa), elektrolit, dan kadangkala vitamin. Wanita yang mengalami komplikasi tidak diijinkan untuk makan atau minum apapun untuk paling tidak 24 jam. Obat penenang, antiemetik, dan obat-obatan lain diberikan sesuai kebutuhan. Setelah wanita rehidrasi dan muntahnya reda, mereka bisa mulai makan yang sering, makanan yang dihaluskan dengan porsi sedikit. Ukuran porsi tersebut meningkat jika mereka bisa menerima banyak makanan. Biasanya, muntah berhenti dalam beberapa hari. Jika gejala kambuh, pengobatan diulangi. Jarang, jika terus kehilangan berat badan dan gejala berlangsung lama meskipun diobati, wanita diberikan makan melalui pipa lurus melalui hidung dan turun ke kerongkongan menuju usus kecil selama diperlukan.

2. Preeclampsia : sekitar 5 % wanita hamil mengalami preeclampsia (toxemia pada kehamilan). Pada komplikasi ini, peningkatan pada tekanan darah disertai dengan protein pada air kencing (proteinuria). Preeclampsia biasanya terjadi antara minggu ke 20 pada kehamilan dan akhir minggu pertama setelah melahirkan. Penyebab preeclampsia tidak diketahui. namun lebih sering pada wanita yang hamil untuk pertama kali, yang membawa dua atau lebih janin, yang memiliki preeclampsia pada kehamilan berikutnya, yang telah memiliki tekanan darah tinggi atau gangguan pembuluh darah, atau yang menderita penyakit sel sickle. Hal ini juga lebih sering terjadi pada anak gadis berusia 15 tahun atau lebih muda dan wanita berumur 35 tahun atau lebih tua.

Berbagai macam preeclampsia akut, disebut sindrom HELLP, terjadi pada beberapa wanita. Terdiri dari hal-hal berikut di bawah ini :
  • Hemolysis (kerusakan sel darah merah)
  • Kenaikkan kadar enzim hati, mengindikasikan kerusakan hati
  • Jumlah platelet rendah, membuat darah tidak bisa menggumpal dan meningkatkan resiko pendarahan selama dan sesudah persalinan.

1 dari 200 wanita yang menderita preeclampsia, tekanan darah menjadi cukup tinggi untuk menyebabkan kejang; kondisi ini disebut eclampsia. Seperempat kasus pada preeclampsia terjadi setelah melahirkan, biasanya pada 2 sampai 4 hari pertama. Jika tidak diobati segera, eclampsia kemungkinan fatal.

Preeclampsia bisa menyebabkan pelepasan prematur pada plasenta dari rahim (placental abruption). Bayi pada wanita yang menderita preeclampsia 4 atau 5 kali lebih mungkin cepat mengalami masalah setelah melahirkan dibandingkan dengan bayi pada wanita yang tidak mengalami komplikasi. Bayi kemungkinan kecil disebabkan kerusakan plasenta atau disebabkan lahir secara prematur.

Jika preeclampsia ringan terjadi pada kehamilan dini, istirahat di rumah kemungkinan tercukupi, tetapi beberapa wanita harus menemui dokter sesering mungkin. Jika preeclampsia bertambah parah, wanita biasanya dirawat di rumah sakit. Di sana, mereka dirawat di tempat tidur dan diawasi ketat sampai janin cukup matang untuk dilahirkan dengan selamat. Antihipertensis kemungkinan diperlukan. Beberapa jam sebelum melahirkan, magnesium sulfate kemungkinan diberikan secara infus untuk mengurangi resiko kejang. Jika preeclampsia terjadi dekat tanggal kelahiran, persalinan biasanya diinduksi dan bayi dilahirkan.

Jika preeclampsia parah, bayi tersebut kemungkinan dilahirkan dengan operasi sessar, yang merupakan jalan pintas, kecuali servik cukup terbuka (dilated) untuk segera melahirkan normal. Cepat melahirkan mengurangi resiko komplikasi pada wanita dan janin. Jika tekanan darah tinggi, obat-obatan untuk merendahkan tekanan darah, seperti hydralazine atau labelatol, kemungkinan diberikan secara infus sebelum melahirkan dilakukan. Pengobatan pada sindrom HELLP biasanya sama pada preeclampsia berat.

Setelah melahirkan, wanita yang sudah menderita preeclampsia atau eclampsia dipantau dengan ketat untuk 2 sampai 4 hari karena mereka meningkatkan resiko serangan. Sebagaimana kondisi mereka terus menerus diperbaiki, mereka dianjurkan untuk berjalan. Mereka bisa menetap di rumah sakit untuk beberapa hari, tergantung pada keakutan preeclampsia tersebut dan komplikasinya. Setelah kembali ke rumah, wanita ini bisa memerlukan obat-obatan untuk merendahkan tekanan darah, secara khusus, mereka harus checkup setidaknya setiap 2 minggu untuk beberapa bulan pertama setelah melahirkan. Tekanan darah mereka bisa tetap tinggi untuk 6 sampai 8 minggu. Jika tetap tinggi, penyebabnya kemungkinan tidak berhubungan dengan preeclampsia.

3. Diabetes selama kehamilan : sekitar 1 sampai 3% wanita hamil mengalami diabetes selama kehamilan. Gangguan ini dikenal dengan diabetes gestational. Tidak terdeteksi dan tidak terobati, diabetes gestational bisa meningkatkan resiko pada masalah kesehatan wanita hamil dan janin dan resiko kematian pada janin. Diabetes gestational paling sering terjadi pada wanita obesitas dan kelompok etnis tertentu, terutama orang asli amerika, pulau pasifik, dan wanita meksiko, Indian, dan keturunan asia.

Kebanyakan wanita dengan diabetes gestational mengalami hal itu dikarenakan mereka tidak menghasilkan cukup insulin sebagaimana kebutuhan insulin meningkat dalam kehamilan tua. Lebih banyak insulin dibutuhkan untuk mengendalikan peningkatan kadar gula (glukosa) di dalam darah. Beberapa wanita bisa memiliki diabetes sebelum hamil, tetapi tidak diketahui sampai mereka hamil.

Beberapa dokter secara rutin memeriksa setiap wanita hamil untuk diabetes gestational. Dokter lain memeriksa hanya wanita yang memiliki faktor resiko untuk diabetes, seperti obesitas dan latar belakang etnis tertentu. Tes darah digunakan untuk mengukur kadar gula garah dengan alat pantau gula darah rumahan.

Pengobatan terdiri dari menghilangkan makanan bergula tinggi dari makanan, makan untuk menghindari kelebihan berat badan selama kehamilan, dan, jika kadar gula darah tinggi, diberikan insulin. Setelah melahirkan, diabetes gestational biasanya hilang. Meskipun begitu, banyak wanita menderita diabetes gestational mengalami diabetes jenis 2 sewaktu mereka menjadi tua.

4. Ketidakcocokan Rh : ketidakcocokan Rh terjadi ketika seorang wanita hamil memiliki darah Rh-negatif dan janin memiliki darah Rh-positif, menurun dari ayah yang memiliki darah Rh-positif. Sekitar 13% pernikahan di amerika serikat, laki-laki yang memiliki darah Rh-positif dan wanita memiliki darah Rh-negatif.

Faktor Rh adalah molekul yang terjadi pada permukaan sel darah merah pada beberapa orang. Darah ber Rh-positif jika sel darah merah memiliki faktor Rh dan Rh-negatif jika tidak memiliki. Masalah dapat terjadi jika janin memiliki darah Rh-positif memasuki aliran darah wanita tersebut. Sistem kekebalan tubuh wanita tersebut bisa mengenali sel darah janin sebagai benda asing dan menghasilkan antibodi, disebut antibody Rh, untuk menghancurkan sel darah merah janin. produksi pada antibodi ini disebut sensitization Rh.

Selama kehamilan pertama, sensitization Rh adalah tidak mungkin, karena tidak ada jumlah signifikan pada darah janin mungkin untuk memasuki aliran darah wanita tersebut sampai melahirkan. Sehingga janin atau bayi yang baru lahir jarang mengalami masalah. Meskipun begitu, sekali wanita menjadi sensitif, masalah lebih mungkin terjadi dengan setiap kehamilan berikutnya dimana darah janin adalah Rh positif. Pada setiap kehamilan, wanita tersebut menghasilkan antibodi Rh lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak.

Jika antibodi Rh melintasi plasenta menuju janin, mereka bisa menghancurkan beberapa sel darah merah janin. Jika sel darah merah cepat dihancurkan dibandingkan janin menghasilkan yang baru. Janin bisa mengalami anemia. beberapa kerusakan disebut penyakit hemolytic pada janin (erythroblastosis fetalis) atau bayi yang baru lahir (erythroblastosis neonatorum ). Pada kasus berat, janin bisa mati.

Pada kunjungan pertama ke dokter selama kehamilan, wanita diskrining untuk menentukan apakah mereka memiliki darah dengan Rh-positif atau Rh-negatif. Jika mereka memiliki darah Rh-negatif, darah mereka diperiksa untuk antibodi Rh dan jenis darah ayah dipastikan. Jika sang ayah memiliki darah Rh-positif, sensitivitas Rh sebagai suatu resiko. Pada beberapa kasus, darah pada wanita hamil diperiksa untuk antibodi Rh secara bertahap selama kehamilan. Kehamilan bisa diproses sebagimana biasa selama tidak ada antibodi terdeteksi.

Jika antibodi terdeteksi, langkah-langkah kemungkinan diambil untuk melindungi janin, bergantung pada seberapa tinggi kadar antibodi. Jika kadar menjadi terlalu tinggi, amniocentesis kemungkinan dilakukan. Pada prosedur ini, jarum dimasukkan melalui kulit untuk menarik cairan dari kantung ketuban. Kadar bilirubin (pigmen kuning dihasilkan dari penguraian sel darah merah yang normal) diukur pada contoh cairan. Jika kadar ini terlalu tinggi, janin diberikan transfusi darah. biasanya transfusi diberikan sampai janin cukup matang untuk dilahirkan dengan selamat. Kemudian persalinan diinduksi. Bayi tersebut bisa memerlukan tambahan transfusi setelah lahir. Kadangkala tidak ada transfusi yang diperlukan sampai setelah lahir.

Sebagai tindakan pencegahan, wanita yang memiliki darah Rh-negatif diberikan suntikan antibodi Rh pada 28 minggu kehamilan dan dalam 72 jam setelah melahirkan bayi yang memiliki darah Rh-positif, bahkan setelah keguguran atau aborsi. Antibodi yang diberikan disebut Rh0, D) immune globulin. Pengobatan ini menghancurkan setiap sel darah merah dari bayi yang telah memasuki aliran darah wanita tersebut. Dengan demikian, tidak terdapat sel darah merah dari bayi untuk memicu produksi antibodiy oleh wanita ini, dan kehamilan berikutnya biasanya tidak membahayakan.

5. Lemak hati pada kehamilan : gangguan langka ini terjadi ke arah kehamilan tua. Penyebab tersebut tidak diketahui. gejala-gejala termasuk mual, muntah, perut tidak nyaman, dan penyakit kuning. Gangguan tersebut bisa segera memburuk, dan gagal hati bisa terbentuk. Diagnosa didasarkan pada tes fungsi hati dan kemungkinan dipastikan dengan biopsi hati. Dokter bisa menyarankan untuk segera menghentikan kehamilan. Resiko kematian untuk wanita dan janin adalah tinggi, tetapi mereka yang bertahan sepenuhnya sembuh. Biasanya, gangguan tersebut tidak berulang pada kehamilan berikutnya.

6. Peripartum cardiomyopathy : dinding jantung kemungkinan rusak pada kehamilan tua atau setelah melahirkan, menyebabkan peripartum cardiomyopathy. Penyebab tersebut tidak diketahui. peripartum cardiomyopathy cenderung terjadi pada wanita yang telah beberapa kali hamil, yang lebih tua, yang kandungannya kembar, atau yang mengalami preeklamsia. Pada beberapa wanita, fungsi jantung tidak kembali normal setelah kehamilan. Mereka bisa mengalami peripartum cardiomyopathy pada kehamilan berikut. Wanita ini harusnya tidak hamil kembali. Peripartum cardiomyopathy bisa terjadi pada gagal jantung yang diobati.

Masalah-masalah dengan cairan ketuban : terlalu banyak cairan ketuban (polyhydramnios) pada selaput yang mengandung janin (kantung ketuban) meregangkan rahim dan memberi tekanan pada diafragma wanita hamil. Komplikasi ini bisa menyebabkan masalah-masalah pernafasan berat untuk wanita atau persalinan sebelum waktunya.

Terlalu banyak cairan cenderung menumpuk ketika wanita hamil mengalami diabetes, mengandung lebih dari satu janin (kehamilan ganda), atau menghasilkan antibodi Rh menuju darah janin. Penyebab lain adalah kerusakan lahir pada janin, khususnya penyumbatan kerongkongan atau kerusakan pada otak dan tulang belakang (seperti spina bifida). Sekitar separuh waktu, penyebab tersebut tidak diketahui.

Cairan ketuban yang terlalu sedikit (oligohydramnios) bisa juga menyebabkan masalah-masalah. Jika jumlah cairan sangat berkurang, paru-paru janin kemungkinan tidak matang dan janin kemungkinan tertekan, mengakibatkan kelainan bentuk; kombinasi pada kondisi ini disebut sindrom Potter.

Cairan ketuban yang terlalu sedikit cenderung terbentuk ketika janin mengalami kerusakan pada saluran kemih, tidak berkembang seperti yang diharapkan, atau meninggal. Penyebab lain termasuk penggunaan penghambat enzim angiotensin-converting (ACE), seperti enalapril atau captopril, pada trisemester ke-2 dan ke-3. Obat-obatan ini diberikan selama kehamilan hanya ketika mereka harus digunakan untuk mengobati gagal jantung berat atau tekanan darah tinggi. Menggunakan obat-obatan nonsteroidal antiimflammatory (NSAIDs) di akhir kehamilan bisa juga mengurangi jumlah cairan ketuban.

7. Plasenta previa : plasenta previa adalah penanaman pada plasenta sepanjang atau di dekat servik, lebih rendah pada bagian atas rahim. Plasenta bisa seluruhnya atau sebagian menutupi pembukaan servik. Plasenta previa terjadi dalam 1 dari 200 kelahiran, biasanya pada wanita yang mengalami lebih dari sekali kehamilan atau yang mengalami kelainan struktur pada rahim, seperti fibroid.

Plasenta previa dapat menyebabkan pendarahan tanpa nyeri dari vagina yang secara tiba-tiba terjadi pada kehamilan tua. Darah kemungkinan merah menyala. Pendarahan bisa menjadi besar, membahayakan nyawa pada wanita dan janin.

Ultasonografi membantu dokter mengindentifikasi plasenta previa dan membedakannya dari suatu pelepasan plasenta secara prematur (placenta abruption)

Ketika mengalami pendarahan parah, wanita dirumah sakitkan sampai melahirkan, khususnya jika plasenta terletek di sepanjang servik. Wanita yang mengalami pendarahan parah memerlukan transfusi darah berulang. Ketika pendarahan ringan dan melahirkan tidak segera terjadi, dokter biasanya menganjurkan istirahat total di rumah sakit. Jika pendarahan berhenti, wanita biasanya dianjurkan untuk berjalan. Jika pendarahan tidak terjadi, mereka biasanya dipulangkan ke rumah, disiapkan dimana mereka bisa kembali dengan mudah ke rumah sakit. Operasi sessar hampir selalu dilakukan sebelum persalinan dimulai. Jika wanita dengan plasenta previa akan bersalin, plasenta cenderung menjadi lepas sangat cepat, menghentikan suplai oksigen bayi. Kebocoran oksigen bisa mengakibatkan kerusakan otak atau masalah-masalah lain pada bayi.

8. Placental abruption (abruptio placentae) : placental abruption adalah pelepasan prematur dari plasenta dengan posisi normal dari dinding rahim. Plasenta bisa lepas tidak lengkap (kadangkala hanya 10 sampai 20%) atau secara utuh. Penyebabnya tidak diketahui. pelepasan plasenta terjadi dalam 0.4 sampai 3.5% pada seluruh kelahiran. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada wanita yang mengalami tekanan darah tinggi (termasuk preeklampsia) dan pada wanita yang menggunakan kokain.

Rahim berdarah dari tempat dimana plasenta menempel. Darah bisa melewati servik dan keluar dari vagina sebagai pendarahan luar, atau kemungkinan terjebak di belakang plasenta sebagai pendarahan concealed. Gejala-gejala tergantung pada tingkat pelepasan dan jumlah darah yang hilang (yang kemungkinan banyak). Gejalanya bisa termasuk nyeri perut tiba-tiba berlanjut atau kram, lunak ketika perut ditekan, dan membal. Pelepasan prematur pada plasenta bisa menyebabkan penyebarluasan penggumpalan di samping pembuluh darah (disseminated intravascular coagulation), gagal ginjal, dan pendarahan ke dalam dinding rahim, khususnya pada wanita hamil yang juga mengalami preeklampsia. Ketika plasenta lepas, suplai oksigen dan nutrisi untuk janin kemungkinan berkurang.

Wanita dengan pelepasan plasenta prematur dirawat di rumah sakit. Pengobatan yang umum adalah istirahat total. Jika gejala-gejala berkurang, wanita dianjurkan untuk berjalan dan kemungkinan dikeluarkan dari rumah sakit. Jika pendarahan berlanjut atau memburuk (diduga janin tersebut tidak mendapat cukup oksigen) atau jika kehamilan mendekati masanya, melahirkan dini seringkali terbaik untuk wanita dan bayi tersebut. Jika tidak mungkin melahirkan dengan normal, operasi sessar dilakukan.

Sumber : http://www.spesialis.info/?apa-saja-faktor-resiko-yang-berkembang-selama-kehamilan-,494
Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI


Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI

Bioglass Mini | Bioglass 2+ | Bioglass X | Bioglass Manfaat | Bioglass MCI | Bioglass Asli | Bioglass Buat Asma | Bioglass Biomini | Bioglass Buat Diabetes | Bioglass Batu Ginjal | Bioglass dan Manfaatnya | Bioglass dan Biomini | Bioglass Ditempel | Bioglass Dari MCI | Bioglass Direndam | Bioglass Energy | Bioglass Fungsi | Bioglass Fungsinya | Bioglass Asam Urat | Bioglass untuk Kolesterol | Bioglass untuk Vertigo | MLM MCI